Angkasa Pura 2

Aksi “Premanisme” di Bandara Ahmad Yani Bisa Dibawa ke Ranah Forkompimda

Aksi Polisi Bandara KoridorSelasa, 17 Juli 2018
images-6

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Aksi premanisme  yang diawali dengan monopoli layanan angkutan taksi di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah kembali mengemuka.   Angkutan darat khususnya dari Bandara di Kota Semarang  dikuasai pihak tertentu, dan diikuti pemaksaan dan larangan pada pihak lain di luar kelompok mereka.

Jika ada oknum sopir taksi umum yang mengambil penumpang di bandara tersebut, akan dipaksa menurunkan penumpangnya,  bahkan bisa juga didenda oleh oknum “penguasa” di daerah tersebut.

Seorang warganet melalui akun #Nathalie Nathalie menceritakan pengalaman buruk saat di Bandara Ahmad Yani  Semarang. Dengan runtut dipun menyampaikan masalah yang dihadapi dengan gamblang.

Premanisme di Bandara Ahmad Yani Semarang

Hari ini ketika pesawat saya landing di Semarang tepatnya pukul 12.30 ada perasaan yang campur aduk di hati saya ..lapar, panas, sedih, senang, bingung dan juga bangga melihat pada akhirnya Semarang punya Bandara yang begitu keren.

Keluar dari gate saya berniat naik taxi karena harus menyeberang untuk naik taxi bandara saya merasa agak malas krn panas dan lalu lintas ramai. Kemudian saya melihat ada taxi Blue Bird kosong dan saya menanyakan ke drivernya apakah kosong ?

Singkat kata kita sepakat dan semua barang saya dimasukan ke bagasi taxi tsb. Setelah taxi mulai jalan kurang lebih10-20 meter tiba2 taxi kami diberhentikan oleh seorang oknum di Bandara dan membentak supir taxi blue bird dan membentak serta memerintahkan saya untuk turun dari taxi tersebut karena saya tidak boleh naik taxi blue bird dan karena ada peraturan yang melarang kami naik taxi lain selain taxi Bandara.

Saya turun dan mempertanyakan siapa Bapak tersebut dan ada hak apa dia melarang saya untuk tidak naik taxi pilihan saya ???? Saya tetap mempertahankan hak saya untuk memilih apa saja … Kami terlibat perdebatan sangat keras dan panjang dan dia lakukan pressure ke driver untuk menurunkan semua barang2 saya …”

Bawa ke Ranah Forkompimda

Pengamat transportasi dan Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno mengaku sangat menyayangkan kasus itu sampai  terjadi dan berlarut-larut sampai sekarang.

“Aksi premanisme itu, tak pernah dibenarkan oleh UU.  Monopoli dimanapun, termasuk layanan taksi bandara juga bertentangan dengan UU Antimonopoli dan Persaingan Usaha Tak Sehat,” kata Djoko pada  BeritaTrans.com,  Selasa (17/7/2018).

Mestinya (masalah ini) papar Djoko dibawa ke ranah Forkompimda Jateng “Pangdam, Kapolda, Gubernur, Kejati, DPRD… Bersatu membuat komitmen untuk memberikan layanan terbaik dan prima dari Bandara A. Yani dan Bandara Adi Soemarmo yang berada di Jawa Tengah,” jelas Djoko.

Untuk kasus Bandara Ahmad Yani Semarang, menurut Djoko, Walikota Semarang dan Gubernur Jawa Tengah sebenarnya bisa bertindak melalui Forkominda. “Jangan sampai ada monopoli apalagi sampai terjadi aksi premanisme  tersebut,” papar Djoko.

Jawa Tengah dan Bandara Ahmad Yani, tukas Djoko, kini tengah berbenah dan merusaha menjaring wisawatan lokal dan mancanegara. “Jika masih terjadi aksi premanisme di bandara, maka bisa menjadi kontra produktif,” sebut anggota MTI itu.

Alih-alih mengundang wisman ke Semarang, yang selama ini sudah berkunjung bisa kabur lagi. “Wisatawan datang harus disambut dan dilayani dengan baik. Jangan sampai justru dipaksa dan dipalakin, karenanya membuat mereka takut datang kembali,” terang Djoko.

Jika ingin membangun pariwisata dan layanan yang baik di Bandara Ahmad Yani dan Kota Semarang lainnya perlakukan buruk itu harus ditinggalkan. “Premanisme apapun bentuknya dan dimanapun terjadi tak pernah dibenarkan,” tegas Djoko.(helmi)

loading...