Angkasa Pura 2

Jadi Poros Maritim Dunia, Transportasi Laut Harus Dikembangkan

Dermaga LitbangKamis, 19 Juli 2018
IMG_20180719_110050

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Menjadi poros maritim dunia, transportasi laut harus dikembangkan. Menurut Dekan FTUP dan Ketua MLI PII Balitbanghub Budi Mulyawan menyebutkan bahwa budaya bahari dapat menjadi kekuatan yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

“Indonesia negara sangat kaya raya yang diberkati Tuhan Semesta Alam. Bila dikelola dengan seksama dan bijak maka akan mampu mensejahterakan sekuruh rakyat dan menjadi kekuatan ekonomi dunia yang disegani,” tegas Budi Mulyawan pada Fokus Group Discussion (FGD) “Peran Transportasi Laut untuk Mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia” di Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Namun sebaliknya, bila salah pengelolaan, kata dia, maka akan membawa mala petaka bagi rakyatnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut Chandra Irawan. Pengembangan menjadi sangat penting dan tantangan yang ada harus dapat dilalui.

“Tantangannya antara lain terkait geografi, penduduk, disparitas wilayah antara barat dan timur, ekonomi, dan kemiskinan,” tuturnya.

Kebijakan tentu saja harus disiapkan, misalnya dengan adanya tranaportasi laut yang multidimensi dan ego sektoral.

Jika tidak ada komunikasi yang baik, maka muncul ego sektoral, muncul berbagai hambatan. Untuknya disebutkannya, agar dapat disamakan sehingga semuanya mengalir dengan baik.

“Lainnya yang tak kalah penting adalah kesiapan konektivitas, industri pelayaran, sumber daya manusia, poros maritim, diplomasi, pertahanan, dan lainnya,” ungkap dia.

Apalagi, ujar Chandra, luas perairan Indonesia terpanjang keempat dan potensinya besar, banyak pulau, serta wilayah perairan yang mencapai 70 persen.

Indonesia juga memiliki kekayaan perairan keanekaragaman hayati perikanan, wilayah strategis, dan armada militer.

Pembicara ketiga Direktur Strategi Keamanan Laut Muspin Santoso menambahkan untuk mendukung menjadi Poros Maritim dunia maka keamanan perairan harus diutamakan.

“Harus tercipta laut yang aman, bebas dari ancaman kekerasan, ancaman navigasi, terhadap sumber daya laut, dan ancaman pelanggaran hukum,” ungkap Muspin.

Adapun pemetaan potensi keamanan di laut dituturkan dia antara lain batas wilayah perairan, perompakan, penyelundupan narkoba, ilegal logging melalui laut, penyelundupan manusia, IUU Fishing, dan pencemaran laut. (omy)