Angkasa Pura 2

Sektor Angkutan Jalan Perlu Diimbangi Kebijakan yang Dapat Mendorong Perkembangan Dunia Transportasi 

Aksi Polisi KoridorSenin, 23 Juli 2018
IMG-20180723-WA0014

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Dunia transportasi nasional, khususnya pada sektor angkutan barang sangat sangat dinamis, seiring dengan kebutuhan mobilitas barang yang kian tinggi.

“Dengan semakin dinamisnya sektor angkutan jalan perlu juga diimbangi dengan kebijakan yang dapat mendorong perkembangan dunia transportasi nasional secara berkelanjutan,” kata Wakil Ketua Umum Kadon Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto pada diskusi mengani Rencana Penerapan Jembatan Timbang dan Kebijakan Penurunan Muatan Lebih Angkutan Barang di Jakarta, Senin (23/7/2018).

Diskusi  ini menghadirkan narasumber Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi,  Rico dari Kadin dan Bapak Simbolon dari Bareskrim Polri. Diskusi dipandu oleh moderator  Ketua Angkutan Barang DPP Organda Ivan Kamadjaja.

Dikatakan Carmelita,  pihaknya mengapresiasi capai Indonesia yang mengalami sedikit perbaikan pada rapor The Global Competitiveness Report 2016-2017.

“Tingkat konektivitas jalan Indonesia mengalami perbaikan dengan bertengger di posisi 75 atau naik 5 peringkat dari laporan 2015-2016, kendati hasil ini masih jauh jika dibandingkan Malaysia ataupun Thailand yang masing-masing berada di posisi 20 dan 60,” jelas Meme, sapaan akrab dia.

Pada sisi lain, lanjutnya, angkutan truk di Indonesia masih menjadi primadona dalam melayani distribusi logistik nasional. Penggunaan angkutan jalan mencapai 90 persen dari total angkutan logistik nasional.

Dominasi truk ini tidak lepas dari kelebihan moda truk sebagai alat angkut karena memiliki Kelebihan: door to door, fleksibel dalam penentuan ataupun perubahan tujuan lokasi pengiriman.  “Truk juga merupakan moda yang cukup cepat dalam hal waktu,” papar  Meme.

Atas dasar itu, kebijakan yang terkait dengan angkutan truk akan sangat berdampak terhadap kondisi dan keberlangsungan logistik nasional kita, sekaligus dampak turunan lainnya.

Hingga saat ini,  menurut Meme, angkutan truk masih dihadapkan pada persoalan masih kerap terjadinya pelanggaran overdimensi ataupun overload (ODOL). “Kondisi ini sebenarnya sudah menjadi kerisauan para pelaku usaha bidang angkutan truk sejak lama,” kilah Meme.

“Kerisauan ini tidak lepas dari keinginan pelaku usaha untuk mengurangi kemacetan, menekan angka kecelakaan lalu lintas, dan sekaligus memperbaiki citra truk yang selama ini dinilai sebagai salah satu penyebab kerusakaan jalan,” tandas Meme.(helmi)