Angkasa Pura 2

Peluang dan Tantangan Pengembangan Bandara Adi Soemarmo Sebagai Bandara Aerotropolis

IMG-20180725-WA0014

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Bandara  Adi Soemarjo, Solo Jawa Tengah berpotensi untuk dikembangkan menjadi Aerotropolis, dengan mengintegrasikan  berbagai fungsi terkait seperti bandara, kawasan pemukiman, industri, wisata dan lainnya.

“Pengembangan bandara aerotropolis di Bandara  Adi Soemarmo sangat memungkinkan, mengingat bandara di  Solo itu makin ramai. Jumlah penumpang makin tinggi, namun kapasitas terminal hanya mampu menampung 1 juta orang setahun,” kata Peneliti Balitbanghub Dedes Kusumawati dalam lomba dan  Temu Peneliti di Jakarta, Rabu (25/7/2018).

Bandara Adi Soemarmo cukup dekat dengan Kota Solo,  dan cukup  strategis karena berada di kawasan Solo, Sukoharjo, Boyolali,  Karanganyar, Wonogiri dan Klaten.

Bandara Adi Soemarmo ini juga menjadi penyokong pengembangan ekonomi, pariwisata sab budaya di Solo sebagai Kota Budaya di Tanah Air.

Untuk menjadikan Adi Soemarno sebagai bandara aerotropolis  harus bisa menginetrgasikan tiga hal, yaitu konsep pengembangan bandara, konsep pengembanhan wilayah atau kawasan RTRW Jawa Tengah serta kawasan bisnis di daerah setempat.

Data BPS menyebutkan,  47% produk ekspor Solo adalah ekstil dan produk tekstil, juga produk ekspor terbesar ekspor Jawa Tengah sebesar 45%. Selain itu, komoditas ekspor yang cukup potensial dari Solo adalah Batik.

Selain itu, papar Dedes, banyak destinasi wisata di Kota Solo, baim wisata belanja, sejarah, seni budaya dan lainnya. “Pengembangan potensi ekonomi dan budaya di Kota Solo akan sangat bagus jika ada bandara aerotropolis di Solo,”  papar Dedes.

Beberapa Kelemahan

Sejauh ini masih ada beberapa kelemahan dan  kekurangan jika akan mengembangan Bandara  Adi Soemarmo menjadi bandara aerotropolis.

“Belum ada integrasi antarmoda yang baik dan berkelanjutan. Saat ini, angkutan lanjutan  dari Bandara  Adi Soemarmo baru ada DAMRI, Trans Batik Solo  serta taksi,” papar Dedes.

Belum ada transportasi lanjutan yang langsung menghubungan Bandara Adi Soemarmo ke destinasi wisata, pusat bisnis yang ada di Kota Solo dan sekitarnya.

“Akibatnya cukup menyulitkan bagi wisatawan dan pelaku usaha yang mempunyai usaha atau akan mengembangkan bisnis di Solo,” sebut Dedes.

Sebagai salah satu produk unggulan di Solo,  menurut dia, perlu difikirkan pengembangan kawasan bisnis terpadu di sekitar Bandara Adi Soemarmo. Tentunya dengan tetap mengakomodasikan bisnis batik asli Solo.(helmi)