Angkasa Pura 2

SUDAH TEPATKAH PELICAN CROSSING?

Koridor SDMSelasa, 31 Juli 2018
IMG-20180731-WA0001

IMG-20180731-WA0000

JAKARTA (BeritaTrans.com) -Dalam rangka menyambut Asian Games ke-18, Pemda DKI Jakarta terus mempercantik wajah kota. Salah satu diantaranya adalah merubuhkan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang terletak melintang pada Jl. MH Thamrin di kawasan Bundaran HI.

Dengan alasan menghalangi pandangan terhadap Tugu Selamat Datang yang ikonik. Pemda DKI akan mengganti JPO dengan Pelican Crossing. Pertanyaannya adalah, apakah langkah ini sudah tepat jika dilihat dari perspektif lalu lintas?

JPO maupun Pelican Crossing adalah fasilitas bagi pejalan kaki untuk menyeberang jalan. JPO merupakan fasilitas yang ditinggikan (minimal 4,2 m) agar pejalan kaki dapat menyeberang dengan selamat karena menghilangkan konflik dengan kendaraan.

Sedangkan Pelican Crossing (akronim dari Pedestrian Light Control ) adalah sebuah fasilitas yang diperkenalkan di Inggris pertama kali, mengatur pergerakan penyeberang jalan dengan kendaraan secara bergantian dengan bantuan lampu lalu lintas.

Nah, sekarang kita lihat dimana kelebihan dan kekurangan masing-masing. JPO, atau di luar sering disebut dengan overhead bridge, karena tidak sejajar dengan jalan, memberikan tingkat keselamatan yang tinggi bagi pejalan kaki. Penyeberang jalan tidak perlu kuatir akan tertabrak kendaraan saat melintas karena potensi konflik sama sekali dihilangkan.

Namun, kelemahannya adalah penyeberang jalan mesti menaiki dan menuruni tangga saat menggunakannya. Bagi para lansia, ibu hamil, anak-anak serta penyandang disabilitas, fasilitas ini tidaklah ramah. Jangankan orang dengan kriteria tersebut, muda mudi saja malas menggunakannya, sehingga banyak JPO yang dibuat namun cenderung muspro karena jarang digunakan.

Selain itu, biaya pembangunan sebuah JPO relatif mahal, serta dari sisi estetika kurang menarik karena dapat mengganggu pandangan (visual intrusion).

Sementara Pelican Crossing, cenderung lebih ramah terhadap penyeberang Lansia, Ibu Hamil, Anak-anak dan penyandang disabilitas, karena sejajar dengan jalan (at grade). Namun Pelican Crossing bukanlah tanpa kekurangan. Karena sejajar jalan, maka potensi konflik pejalan kaki dan kendaraan tetap ada, meskipun sudah diatur dengan lampu lalu lintas.

Apalagi kultur pengemudi di Indonesia yang masih buruk, belum memberikan prioritas yang tinggi terhadap pejalan kaki. Pada beberapa Pelican Crossing yang sudah beroperasi, pelanggaran terhadap Greenman (waktu hijau bagi pejalan kaki) sangatlah tinggi.

Meskipun lampu menyala merah dan pejalan kaki masih dalam posisi menyeberang, pengemudi (terutama sepeda motor) selalu mencuri kesempatan untuk melanggarnya. Kondisi ini tentu menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman bagi pejalan kaki sehingga ironisnya, sering kita lihat, pejalan kaki yang menyeberang sambil berlarian karena khawatir tertabrak kendaraan. Sungguh menggelikan bukan?

Lalu, apakah masih ada kekurangan dari Pelican Crossing yang lain? Jawabannya Ya. Greenman akan menyala ketika ada pejalan kaki yang menekan tombol (push button). Begitu Greenman menyala, maka otomatis lampu merah akan menyala dan kendaraan harus berhenti.

Saat kendaraan berhenti akan terjadi tundaan (delay) dan antrian (queue) dimana semakin tinggi arus kendaraan yang melintas maka tundaan dan antrian juga akan semakin besar. Dapat kita bayangkan, jika pejalan kaki yang akan menyeberang jumlahnya besar (seperti di kawasan Bundaran HI) maka frekuensi pengaktifan Greenman akan sangat tinggi.

Otomatis lampu merah juga akan sangat sering menyala sehingga tundaan dan antrian menjadi sangat tinggi. Secara umum, kondisi ini akan menurunkan kinerja jalan secara drastis. Belum lagi dari aspek keselamatan. Pengemudi dan pejalan kaki akan saling serobot terutama pada jalam-jam sibuk (rush hours). Lalu apa yang mesti dilakukan selanjutnya?

Optimalisasi Pelican Crossing

Pemda DKI sudah memutuskan untuk merobohkan JPO dan mengganti dengan Pelican Crossing, maka menurut penulis ada beberapa cara agar Pelican Crossing ini menjadi optimal.

Pertama, marka crossing untuk penyeberang jalan haruslah lebar mengingat demand yang tinggi di sekitar HI, sehingga penyeberang dapat lebih leluasa bergerak dengan kecepatan yang diinginkan.

Kedua, Greenman tidak boleh langsung aktif saat ada pejalan kaki yang menekan tombol, karena akan memberikan dampak yang buruk terhadap arus kendaraan.

Saat tombol ditekan harus ada waktu jeda (window time) sehingga pergerakan penyeberang dan kendaraan diatur dengan baik, dimana tundaan pejalan kaki maupun kendaraan mencapai titik paling optimal (kompromistis).

Ketiga, Pelican Crossing mesti dilengkapi dengan suara saat Greenman menyala. Hal ini penting untuk mengingatkan pengemudi bahwa modul bagi penyeberang jalan sedang aktif, sehingga menjadi lebih aware dan ini akan meningkatkan keselamatan pejalan kaki.

Jika di Inggris dan Negara-negara persemakmuran, bunyi Greenman biasanya seperti suara burung pelatuk (woodpecker), namun bisa saja Pemda DKI merancang nada lain yang lebih atraktif atau malah dengan pesan suara misalnya.

Tentu penulis tak mengharapkan Pemda DKI coba mengatasi masalah dengan masalah. Jangan sampai demi mengutamakan aspek estetika, malah menimbulkan titik kemacetan baru di Kota Jakarta yang sudah demikian macet.

Asian Games yang kita sambut dengan penuh euphoria ini, jangan justru ternoda oleh buruknya lalu lintas Jakarta yang dapat menjadi kenangan buruk bagi para atlit mancanegara yang sedang berlaga. Semoga!

*Novan Hidayat, pegawai Kemenhub dan akademisi STTD Bekasi/helmi

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari