Angkasa Pura 2

Uji Coba B20 Oleh APM Kurang Memadahi

Energi Koridor OtomotifSelasa, 7 Agustus 2018
Truk petikemas macet

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Beberapa uji coba B15 dari agan pemegang merk (APM) dirasa  kurang memadai seperti uji mesin saja dan bukan uji jalan, menggunakan solar yang ada dipasar dimana campuran b20 nya gak konsisten (B5 B10 dan sebagainya).

“Oleh karena itu,  harus dilakukan kajian sangat mendalam jangan aturan diterbikan kemudian menjadi masalah dicabut lagi. seakan tidak bijak dalam mengeluarkan aturan,” kata Wakil Ketua Umum Aptrinso Kyatmaja Lokman keada pers di Jakarta, kemarin.

Biodiesel memiliki sifat korosif dan asam sehingga jika tertarik dalam ruang bakar. Maka, lama kelamaan mesin menjadi ngempos dan akan kehilangan tenaga alias rusak. Kondisi tersebut tentu akan merugikan dunia usaha, khususnya pemilik truk angkutan barang,” jelas Kyatmaja.

Kendaraan yang lama, papar dia,  juga tidak FAME ready dan untuk membuat FAME ready maka karet, hose dan gasket semua harus diganti dengan melakukan modifikasi mesin. “Kedua tanki solar harus dilapisi anti karat karena sifatnya yang korosif. Jangan lupa ditambahkan water separator filter,” papar Kyatmaja.

Kendaraan lama, saran dia, sebaiknya diganti sistim fuel delivery dan tankinya. Karena sifat fame yang membersihkan akan mengangkat residue di dalam tanki dan membawa kotoran tersebut ke ruang bakar.

“Jika tidak memiliki sisitim penyaringan yang baik, akibatnya mesin bisa rusak. Terlebih, jika pemerintah mengimplementasikan tanpa sosialisasi ke semua stakeholder,” papar pengusaha logistik ini.

Dalam implementasinya FAME/CPO ini memiliki sifat mengikat air. Semua orang tahu,  dulu bahwa minyak tidak akan pernah menyatu dengan air. Jaman dulu yang dicampurkan ke solar itu minyak tanah karena harga minyak tanah yang lebih murah oleh karena itu disiasati dengan sedimenter filter.

“Cilakanya biosolar ini memiliki sifat mengikat minyak dan air sehingga ketiganya bisa tercampur. Saat ini disiasati dengan water separator filter untuk mencegah masuknya air ke ruang bakar,” terang Kyatmaja.

Supplay Chain Solar Payah

Supply chain solar di Indonesia kini amat payah. Ada kejadian di Jakarta beberapa waktu lalu entah pemilik pom nya yang nakal atau dari campurannya. Kandungan airnya sangat tinggi dan banyak truk yang rusak pada waktu itu.

“Sifat biosolar ini banyak dimanfaatkan pom nakal untuk mencampurkan air agar menambah volume. contoh B20 harusnya 20% FAME 80% solar. bisa jadi 79% solar 19% Fame dan 2% Air nah siapa yang memastikan hal ini,” kata Wakil Ketua Umum Aptrinso Kyatmaja Lokman keada pers di Jakarta, kemarin.

Pada dasarnya spesifikasi teknis itu susah sekali ditawar karena tidak bisa ya tidak bisa kecuali dilakukan modifikasi mesin (upgrade) atau di scrap Truknya. Hanya dengan truk yang FAME ready engine kebijakan ini bisa diimplementasi jika kita ingin terus menjalankan program ini demi tercapai kemandirian energy nasional.

Jangan lupa juga, lamjut dia,  sekarang ini zaman permainan Tarief Barrier sudah tidak jaman walaupun Donald Trump mulai memainkan lagi. “Non-Tariff ini dimainkan sama Thailand kepada Kamboja dimana Thailand Euro 4 truknya bisa masuk Kamboja tapi Kamboja Euro 2 truknya tidak bisa masuk Thailand,” jelas Kyatmaja.

“Sama Expor kita ke Vietnam, akan terhambat karena masalah emisi itu pernyataan Pak Presiden saat GIIAS. CPO kita juga dihadang masuk Eropa kan karena issue lingkungan,” terang Kyatmaja.

Dengan semakin boros 2.3%, menurut pengurus Aptrindo ini, maka hitungan target emisi kita semua harus dievaluasi. Negara lain mendeclare akan lebih cepat mencapai target emisi untuk menurunkan barrier masuk ke negara lain, kita malah menambah barrier karena target emisi kita tidak tercapai.

“Sudah saatnya Indonesia fokus ke penurunan emisi untuk mengurangi barrier. Mesin-mesin yang ada sekarangpun itu standar EURO 4. Tidak mungkin pabrik terus membuat mesin lama karena tidak akan mencapai economies of scale dan akan malah menjadi biaya tinggi untuk mereka,” urai Kyatmaja.

Anehnya mesin common rail Euro 4 malah di downgrade ke Euro 2 di Indonesia karena masalah kualitas BBM.  Target Emisi di Indonesia,  masih jauh panggang dari api. Dari Target Presiden 26% di 2030 saat ini hanya tercapai 2.6% saja.

“Dibutuhkan langkah langkah yang lebih agresif dan nyata karena jika tidak akan lebih banyak EXPOR kita yang di NON-TARIFF kan sama negara negara lain karena issue lingkungan dan ujungnya defisit anggaran kita juga semakin lebar karena kita tidak akan dapat Dollar AS,” tegas Kyatmaja.(helmi)