Angkasa Pura 2

PKL di BPTD Bandung dan UPPKB Balonggandu, Ini Pengalaman Unik Taruna PKTJ Tegal

SDMSenin, 13 Agustus 2018
IMG-20180813-WA0001

IMG-20180813-WA0000

KARAWANG (BeritaTrans.com) – Praktik Kerja Lapangan (PKL) menjadi pengalaman menarik dan tak terlupakan bagi taruna-taruni transportasi.  Mereka bisa menerapkan ilmu dan pengalaman di kampus ke lapangan dan melayani masyarakat yang sebenarnya.

Tak terkecuali bagi dua taruna-taruni asal PKTJ Tegal, Tias Yulianti dan  Galih Nurparian. Mereka berdua adalah bagian dari 6 taruna PKTJ yang tengah menjalani PKL di BPTD Jawa Barat.

“Secara bergantian kita adakan di-rolling dai BPTD Bandung setiap dua pekan sekali. Jadi, kita bisa merasakan dan menjalankan tugas secara merata. Dua pekan di BPTD Bandung dan selanjutnya di tempatkan di UPKB Balonggandu, Karawang Jawa Barat,” kata Tias Yulianti dalam percakapan dengan BeritaTrans.com di UPPKB Balonggandu, kemarin.

Banyak tugas dan pengalaman diperoleh selama PKL ini. Mulai dilibatkan membantu bagian administarsi, tugas ke luar kantor bahkan mengukur dimensi kendaraan langsung sangat dibangun di karoseri.

“Selain membantu di bagian administrasi, kita diajak langsung ke karoseri di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Kita diajak langsung mengukur dimensi kendaraan sejak dibangun dari awal,” jelas Tias.

Namun pengalaman yang tak kalah uniknya, menurut putri asal Brebes Jawa Tengah itu, kita saat PKL diajak ikut Family Gathering keluarga besar BPTD Bandung di daerah Lembang, Bandung Utara.

“Pada kesempatan ini, kita bisa bermain bersama keluarga besar BPTd. Bukan hanya itu, bisa ikut outbond bersama di Kota Kembang yang berhawa sejuk itu,” aku Tias Yulianti.

Yang pasti dia menambahkan, berbeda antara ilmu yang dipelajarai di kampus dengan praktik langsung di lapangan. “Tak semua yang dipelajari di kelas,  bisa langsung dipalikasikan di lapangan. Disini perlu kearifan petugas di lapangan,” aku Tias.

Ditinggal Lari Sopir

Berbeda dengan Tias, Galih Nurparian yang langsung ditempat di UPKB Balnggandu pun mendapatkan pengalaman tak terlupakan.  “Sejalan dengan Operasi ODOL di UPPKB Balonggandu, kita diajak mengukur dimensi kendaraan yang masuk dan diduga melanggar d JT Balonggandu ini. Saat itulah terjadi misspersepsi,” sebut Galih.

“Selama pemeriksaan, buku KIR tak diserahkan ke pengemudi, sampai pemeriksaan usai. Tapi entah mengaapa,
ada pihak tertentu yang menyerapkan Buku KIR tersebut. Maka tak salah jika supir tersebut akhirnya pergi sedang pemeriksaan belum selesai,” jelas Galih.

Kasus itulah kemudian dilaporkan, ada pengemudi yang lari atau meninggalkan lokasi saat pemeriksaan dan pemberkasan belum selesai. “Kasus seperti inilah yang harus menjadi pelajaran k depan, pemeriksaan kendaraan termasusk da;am Operasi ODOL harus cermat dan satu komando,” terang dia.

“Sebelum pemeriksaan selesai, jangan berikan Buku KIR. Dengan begitu tidak ditinggal pergi oleh sopir yang bersangkutan,” tandas Galih.(helmi)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari