Angkasa Pura 2

Tahun 2019, Aturan Kelaikan dan Berat Kotor Petikemas Diimplementasikan

DermagaSabtu, 1 September 2018
IMG_20180203_081938

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tahun 2019, aturan kelaikan dan berat kotor petikemas akan diimplementasikan. Hal itu sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 53 Tahun 2018 tentang Kelaikan Peti Kemas dan Berat Kotor peti Kemas Terverifikasi 4 Juni 2018.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Ditjen Perhubungan Laut menilai bahwa kelaikan peti kemas (kontainer) menjadi salah satu komponen penting dalam meningkatkan daya saing kegiatan ekspor barang.

“Pengaturan kelaikan peti kemas sebagai bagian dari alat angkut di kapal, wajib memenuhi persyaratan kelaikan peti kemas dan berat kotor peti kemas terverifikasi yang diatur melalui peraturan perundang-undangan,” jelas Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Dwi Budi Sutrisno di Jakarta, Sabtu (1/9/2018).

Kelaikan peti kemas atau kontainer kata dia, sangat penting karena hal itu menopang daya saing, khususnya untuk ekspor. Sebab, barang yang dikirim menggunakan kontainer tidak laik seperti rusak dan tidak steril bisa ditolak memasuki tempat tujuan.

Dengan telah terbitnya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor. PM No 53 Tahun 2018 yang mengatur Kelaikan Peti Kemas dan Berat Kotor Peti Kemas Terverifikasi, Kemenhub punya waktu sekitar enam bulan sejak peraturan ini diundangkan. Untuk mensosialisasikan kepada semua stakeholders di bidang pelayaran.

“Aturan terkait kelaikan petikemas ini berlaku bagi peti kemas yang digunakan sebagai bagian alat angkut di kapal yang digunakan pengangkutan internasional dan masuk ke pelabuhan Indonesia, peti kemas yang diangkut dari pelabuhan di Indonesia untuk dikirim ke negara lain, serta peti kemas yang diangkut antar pelabuhan di Indonesia,” urainya.

Lebih lanjut, Dwi Budi menjelaskan, setiap peti kemas ekspor-impor dan antarpulau yang digunakan sebagai bagian dari alat angkut wajib memenuhi persyaratan kelaikan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang (UU) No. 17/2008 tentang Pelayaran.

Sementara itu, penentuan berat kotor peti kemas terverifikasi diatur melalui konvensi International Maritime Organization (IMO) dalam amandemen Safety of Life at Sea (Solas) 1972 Bab IV Pasal (2).

Adapun PM 53/2018 tersebut tidak berlaku terhadap peti kemas yang didesain untuk pengangkutan udara, peti kemas pada chasis trailer, peti kemas tangki, dan peti kemas rak datar.

“Selain itu, dikecualikan terhadap peti kemas bermuatan curah cair atau bulk container yang diangkut secara bersamaan pada kapal roll on-roll off (Roro) atau kapal penyeberangan,” tutur Dwi Budi.

Sedangkan terkait dengan pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi peti kemas, lanjut Dwi Budi bisa dilakukan oleh Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal, Badan Klasifikasi yang Ditunjuk dan Badan Usaha yang Ditunjuk Menteri Perhubungan.

“Bagi Badan Klasifikasi atau Badan Usaha yang ditunjuk melakukan pemeriksaan, pengujian dan pengawasan peti kemas harus memiliki persyaratan-persyaratan yang ditentukan yakni memiliki surat izin usaha dalam bidang jasa yang terdaftar pada instansi terkait, tenaga surveyor di bidang pemeriksaan dan pengujian kelaikan peti kemas, kantor cabang di seluruh Indonesia, standar operasional prosedur pemeriksaan, pengujian dan penerbitan sertifikasi peti kemas, peralatan pengujian untuk menentukan kelaikan peti kemas” ujar Dwi Budi.

Sedangkan bagi Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal atau Surveyor yang akan melakukan pemeriksaan, pengujian dan sertifikasi peti kemas harus memiliki kompetensi di bidang kelaikan peti kemas atau pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan di bidang kelaikan peti kemas dengan kompetensi setara. (omy)