Angkasa Pura 2

Gali Inovasi Hadapi Pergerakan Tanah di Sekitar Rel KA, Balitbanghub Gelar FGD

Emplasemen LitbangKamis, 6 September 2018
IMG_20180906_111814

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Bersama-sama ahli dan stakeholder menggali inovasi menghadapi pergerakan tanah di sekitar rel kereta api (KA), Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Kamis (6/9/2018).

FGD mengambil tema “Inovasi Teknologi Pemantauan Pergerakan Tanah Di Sekitar Rel Kereta Api ” dibuka oleh Kepala Badan Litbanghub Sugihardjo.

“Seiring dengan perubahan iklim global dan perubahan lingkungan, sering terjadi bencana alam antara lain terjadinya bencana gempa bumi, banjir maupun tanah longsor. Kejadian bencana alam khususnya tanah longsor sering terjadi pada prasarana transportasi, khususnya pada area rel KA,” paparnya.

Terjadinya tanah longsor pada area rel KA menurutnya dapat menyebabkan gangguan perjalanan KA hingga dapat memakan korban jiwa. Untuk itu, perlu dilakukan antisipasi lebih dini terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat pergerakan tanah dengan memonitor secara riil time pada daerah rawan.

Pemasangan peralatan monitoring perlu dilakukan. Namun harus didahului dengan studi geologis terhadap kondisi tanah di bantalan rel maupun sekitarnya. Hal ini diperlukan untuk dapat menentukan lapisan lapisan tanah dan jenis tanah yang ada, sehingga prediksi terjadinya pergerakan akan lebih presisi.

“Salah satu aspek untuk menjaga keselamatan transportasi perkeretaapian adalah kondisi rel harus terus terpelihara dan terpantau terutama pada area yang berpotensi terjadinya pergerakan tanah. Pemantauan dapat dilakukan dengan pemasangan sistem/sensor secara in site dan on-line,” tutur dia.

Bekerjasama dengan Pusat Penelitian Fisika LIPI, Balitbanghub telah membuat sistem tersebut dan telah dipasang di berbagai titik rawan longsor. Namun demikian masih banyak diperlukan pemasangan di titik-titik lainnya untuk mendapatkan hasil pemantauan yang lebih akurat.

Sinkronisasi antara pengembangan instrumentasi kebencanaan dengan kebijakan yang diambil di lingkungan kementerian, agar bisa saling mendukung dan sejalan.

“Untuk itu perlu dilakukan FGD ini dengan melibatkan berbagai pihak terkait dari pengembang instrumen, pemegang kebijakan penelitian Kemenhub, pelaksana teknis Kemenhub, dan PT KAI sebagai pengguna serta pihak-pihak terkait lainnya,” ungkap pria yang akrab disapa Jojo.

FGD ini ditambahkan Jojo, bertujuan mendapatkan gambaran titik-titik lokasi rawan longsor (pergerakan tanah) di sekitar prasarana perkeretaapian, untuk selanjutnya dapat dilakukan pengembangan instrumentasi kebencanaan di bidang prasarana perkeretaapian yang berpotensi dijadikan produk komersial dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana tanah longsor di Indonesia.

“Diharapkan FGD ini dapat diperoleh berbagai sumbangan pemikiran baru yang bermanfaat bagi semua pihak terkait,” pungkas Jojo. (omy)