Angkasa Pura 2

Hindari Laka Bus Pariwisata Terulang, Ini Masukan dari Instran

Koridor Otomotif SDMSenin, 10 September 2018
darmaningtyas mti2

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kecelakaan bus wisata di Sukabumi tanggal Sabtu (8/9/2018) lalu, semoga menjadi pembelajaran kita yang amat berharga.  Kasus tragis  yang menelan 23 korban jiwa itu jangan terulang  kembali.

“Mengingat setiap kali terjadi kasus kecelakaan bus wisata selalu terungkap adanya ketidakberesan surat-surat maupun kondisi bus,” kata pengamat transportasi dan Direktur Instrans Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com  di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Seperti misalnya, lanjut dia, laka yang pernah terjadi pada Bus HS yang laka di Jl Raya Puncak, Tanjakan Selarong, Gadok (22/4 2017), Bus Solaris Jaya yang kecelakaan di Karanganyar (26/2 2017) juga tidak memiliki izin resmi.

Juga pada Bus Pariwisata Premium Passion yang mengalami laka di Simpang Emen (Aman) dulu yang ternyata bus-nya memang sudah rusak.

Dan yang kasus laka bus pariwisata di Sukabumi kemarin, jelas Tyas, juga  ditemukan uji KIR-nya sudah kadaluwarsa dua tahun.

Maka dari itu, saran masukan yang dapat diberikan adalah, membuat data base hasil verifikasi seluruh perizinan dan surat-surat lainnya untuk bus wisata dan AKAP  secara online dan real time.  “Usia kendaraan mereka juga dibuatkan data base secara online,” papar Tyas yang juga pamong Perguruan Taman Siswa itu.

Sekiranya usia kendaraan sudah melebihi batas maksimal, toleransi yang diberikan untuk peremajaan mereka waktu. “Semuanya itu dibuat online dan real time. Perlu ada petugas khusus yang diberi mandate untuk memantau perkembangan per harinya,” kilah Tyas.

Selanjutnya, membuat data base secara online dan real time tentang jadwal bus wisata dan AKAP melakukan uji KIR.

“Jadi sewaktu-waktu  Kemenhub dapat melihat bus mana saja yang saatnya sudah melakukan uji KIR tapi belum melakukannya,” terang Tyas.

Yang sudah jadwalnya tapi belum melakukan langsung ditegur. Jika masih bandel umumkan ke media agar masyarakat tahu dan tidak mau menggunakan bus tersebut.

“Perlu ada petugas khusus yang melototi data base tersebut tiap hari dan tiap minggu dilaporkan Dirjen Hubdat,” tandas Tyas.(helmi)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari