Angkasa Pura 2

Laka Bus Pariwisata, Ini Analisis Safety Investigator KNKT

Koridor SDMSelasa, 11 September 2018
ACHMAD WILDAN2

IMG-20180909-WA0042

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kasus kecelakaan bus pariwisata masih terus terjadi di Indonesia. Kasus terakhir, adalah laka bus pariwisata yang masuk ke jurang di Cikidang, Sukabumi  dan menewaskan 23 penumpangnya, Sabtu akhir pekan lalu.

“Sebenaranya ada apa dengan bus pariwisata kita?  Benarkah semua kecelakaan tersebut disebabkan karena rem blong,” kata Achmad Wildan, Safety Investigator KNKT kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Selasa (11/9/2018).

Dia pun mengajak melihat secara cermat perbandingan antara bus regular dengan bus pariwisata. Ada beberapa catatan KNKT terkait kecelakaan bus pariwisata ini.

Mereka itu  diantaranya adalah: 1.Kecelakaan tunggal bus Sang Engon di Tol Jatingaleh Semarang, 2.Kecelakaan tunggal bus Rukun Sayur di Tol Cipali; 3.Kecelakaan bus Parahyangan Ekspress di jalan Kolonel Masturi Lembang; 4.Kecelakaan bus Kitrans di Jalan Raya Puncak – Ciloto; 5.Kecelakaan mobil bus elf dengan KA Lodaya di Kroya.

Selanjutnyam 6.Kecelakaan mobil bus elf di jalan Denpasar – Gilimanuk; 7.Kecelakaan bus di Tikungan Emen, Subang;
8.Kecelakaan bus Tiban Inten di tol Cipali; 9.Kecelakaan bus di Tobasa Sumatera Utara; 10.Kecelakaan bus di cikidang, Sukabumi.

Menurut Wildan, ada beberapa catatan terkait kecelakaan bus pariwisata selama beberapa waktu belakangan yang realitanya tentu lebih banyak lagi.

“Dari sekian kecelakaan yang terjadi, terdapat dua temuan yang senantiasa menjadi pelengkap terjadinya kecelakaan dimaksud : 1. Rem blong (?) dan 2. Waktu kerja pengemudi yang melampaui waktu kerja normal (12 jam),” aku akademisi STTD dan PKTJ itu lagi.

Fakta selama ini menunjukkan, bus reguler  rutenya tetap, waktunya tetap, asal dan tujuan dari Terminal Angkutan Penumpang. Sementara, untuk bus wisata rute tidak tetap, waktu tidak tetap, asal dan tujuan tidak tentu.

Dari perbandingan singkat diatas, jeas Wildan, kita bisa melihat bahwa pengawasan dan pengendalian pada operasional bus regular lebih mudah. Dan hampir bisa dipastikan, pengemudi bus regular akan sangat memahami rute yang akan dilaluinya.

Sementara pada bus wisata waktu, rute, asal dan tujuan yang tidak jelas menyebabkan pengendalian dan pengawasan terhadap operasionalnya lemah.

“Banyak ditemukan bus pariwisata yang tidak memiliki buku uji, tidak memiliki ijin dan sebagaianya. Lalu benarkah setiap kecelakaan tersebut disebabkan karena rem blong,” tanya Wildan.

Rem Blong Bukan Penyebab

Dari hasil investigasi KNKT, papar Wildan, kasus rem blong pada kecelakaan tersebut bukanlah merupakan penyebab. Melainkan akibat yang ditimbulkan oleh suatu keadaan yang keliru.

Kalau kita buat analisis sederhana : input – proses – output – outcome, maka dapat dijelaskan sebagai berikut  :

Input, waktu kerja tak berbatas, pengemudi tidak memahami rute, jalan dibawah standar, kondisi kendaraan bermotor kurang prima.

Proses, kesalahan dalam melakukan antisipasi/pengemudi sering mengocok rem, tidak menggunakan sekunder brake (engine brake dan exhaust brake) sehingga kampas rem berpotensi overheat (menyebabkan brake efectivity menurun drastis).

Output, pedal rem, pedal kopling, pedal gas semua dalam posisi terkunci (alias tidak dapat melakukan pengereman) dan dalam hal ini orang sering menyebutnya rem blong
Outcome, pengemudi tidak mampu menguasai kendaraan dan terjadi kecelakaan.

Saran Tindak

Selanjutnya, untuk mengeliminir masalah-masalah pada input (dalam satu kasus kevelakaan) tersebut, perlu dilakukan penanganan secara komprehensif baik oleh Direktorat Pembinaan Keselamatan maupun Direktorat Angkutan dan Multi Moda.

Ada beberapa saran yang bisa disampaikan sebagai berikut  :
Input, waktu kerja tak berbatas dan kendaraan kurang prima

Adapun saran yang disampaikan, tambah Wildan, adalah pengendalian lewat perijinan dimana setiap perijinan kendaraan pariwisata harus dipastikan  memiliki Sistem Manajemen Keselamatan, khususnya terkait pemeliharaan kendaraan dan Penugasan/ Pengaturan awak kendaraan.(helmi)