Angkasa Pura 2

Tommy: Membiasakan yang Benar, Jangan Membenarkan yang Biasa

itjen SDMSelasa, 18 September 2018
2018-09-18 12.05.20

JAKARTA (BeritaTrans.com)- Revolusi mental yang digelorakan pemerintahan Jokowi sejatinya memperbesar ruang terhadap perubahan mental, terutama aparatur sipil negara (ASN).

Menurut Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Wahju Satrio Utomo, salah satu perubahan mental adalah menanamkan pemahaman untuk membiasakan yang benar dan jangan membenarkan yang biasa.

“Benar di sini dalam pengertian benar secara hukum, benar secara aturan, dan benar secara tata kelola pemerintahan. Hal ini yang selalu ditekankan oleh Bapak Menteri Perhubungan,” tutur pejabat, yang akrab dipanggil dengan sebutan ‘Pak Tommy’ itu.

Dia mengemukakan social engineering untuk merekayasa perilaku kehidupan masyarakat, terutama ASN, sehingga menjadi sebagaimana mestinya bertujuan memberikan keadilan, kebermanfaatan dan kepastian bagi masyarakat itu sendiri.

Kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Senin (17/9/2018) malam, Irjen menuturkan sikap dan prilaku membiasakan yang benar akan menyebabkan kualitas pelayanan kepada publik akan lebih baik lagi. Pada sisi lain, justru akan memberikan manfaat besar untuk ASN, yang melakukannya.

2018-09-18 12.02.57

Salah satu manfaat tersebut, dia mengutarakan pekerjaan dapat diselesaikan secara profesional dengan akurat, tepat serta cepat. “Selain itu, terhindar dari risiko hukum,” cetusnya.

Pak Tommy mengemukakan sikap dan prilaku membiasakan yang benar bertolak belakang dengan sikap dan prilaku membenarkan yang biasa. “Biasanya begini, juga nggak apa-apa. Biasanya begitu, juga lancar-lancar saja. Ini berbahaya,” ujarnya.

Hal yang biasa, dia menegaskan belum tentu benar dalam perspektif hukum, peraturan dan tata kelola pemerintahan. “Malah mungkin hal yang biasa itu berpotensi melanggar hukum,” ujarnya.

Mantan Kepala BPSDM Perhubungan Kemenhub ini menuturkan zaman terus berubah, aspirasi terus berkembang, dan ekspektasi publik terus meningkat. Pada sisi lain, paradigma dan perspektif kita masih belum berubah.

“Yang biasa pada masa lalu tentu tentu menjadi benar pada masa kini. Begitu pula, yang biasa pada masa kini belum tentu juga benar pada masa yang akan datang. Zaman sudah digital, tetapi masih manual. Karena itu, sikap dan prilaku kita harus terus berubah yakni membiasakan yang benar. Kita harus terus berusaha dan berjuang untuk membiasakan yang benar,” tegasnya.

“Persaingan dunia semakin ketat, pasar bebas ASEAN sudah nyata sekarang. Bagaimana bisa bersaing dengan dunia luar jika mental kita tidak di ubah? Harus dibiasakan yang benar,” ujarnya. (awe).

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari