Angkasa Pura 2

Kemenhub Gandeng Otoritas Penerbangan Amerika Antisipasi Kejahatan Siber 4.0

Bandara KokpitKamis, 20 September 2018
IMG_20180312_201443

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan gandeng Otoritas Penerbangan Amerika Serikat (Federal Aviation Administration/FAA) antisipasi kejahatan siber 4.0.

Industri Penerbangan 4.0 yang banyak menggunakan teknologi informasi berbasis digital (siber) dalam proses bisnisnya terbukti sangat berguna meningkatkan kinerja operasionalnya saat ini. Namun dibalik itu juga terdapat ancaman serius yang harus diantisipasi sedini mungkin agar tidak mengganggu operasional penerbangan.

Pelaksana Tugas Dirjen Perhubungan Udara M Pramintohadi Sukarno menyampaikan, adopsi teknologi informasi dan komunikasi dalam bisnis proses saat ini adalah suatu keharusan di berbagai bidang, termasuk di penerbangan.

“Manfaat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan konektivitas, keamanan dan efisiensi biaya. Semua hal dalam penerbangan seperti bisnis, operasional, layanan darat, komunikasi-navigasi dan surveillance (CNS), infrastruktur bandara, manajemen lalu lintas udara (ATM), dan rantai pasokan kargo udara sekarang menggunakan sistem siber,” ujar Pramintohadi di Jakarta, Kamis (20/9/2018).

Namun ada kerentanan dan peluang sistem untuk dieksploitasi yang disebut serangan siber. Serangan siber dapat terjadi dalam sistem reservasi tiket penerbangan, teknologi bandara, sistem informasi dan sebagainya. Untuk itu perlu sistem keamanan siber yang kuat. Sistem keamanan siber diperlukan dalam penerbangan sehingga serangan siber dapat dilawan sedini mungkin dan dapat diperbaiki dengan cepat”, ujar Pramintohadi.

Bersama FAA, pihaknya telah melakukan pembahasan antisipasi ancaman kejahatan siber pada penerbangan. Pertemuan itu merupakan forum pertukaran informasi dan best practices terkait bentuk ancaman kejahatan siber, perkembangannya serta penanganannya di sektor penerbangan sipil dalam rangka meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Pertemuan dalam kerangka Aviation Working Group (AWG) dan membahas “Aviation Cyber Security“ tersebut merupakan tindak lanjut dari MoU on Establishment of The US-Indonesia Aviation Working Group yang ditandatangani oleh Menhub dan Dubes AS pada 20 April 2015 yang lalu.

“Para peserta dan pembicaranya orang-orang yang sangat berkompeten di bidang tersebut. Yaitu dari Badan Siber dan Sandi Negara, Direktorat Keamanan Penerbangan Ditjen Hubud, Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, AirNav Indonesia, PT. Angkasa Pura 1 dan 2, PT. Garuda Indonesia, dan PT. Lion Mentari Airlines. Sedangkan dari Amerika hadir sebagai pembicara dari Palo Alto Networks, Raytheon, Honeywell, Cisco, dan FAA Representative Southeast Asia. Jadi saya harap hasil pertemuan tersebut bisa menjadi bahan mengembangkan sistim untuk mengantisipasi kejahatan siber pada penerbangan nasional Indonesia,” paparnya.

Dubes AS Joseph Donovan mengungkapkan, pihaknya sangat fokus terhadap penanganan keamanan siber di bidang penerbangan.

“Ini merupakan pertemuan yang sangat penting dan bermanfaat untuk membantu kita semua menghadapi serangan siber,” ujarnya. (omy)

loading...