Angkasa Pura 2

Moeldoko Akui Ada 21.271 TKA Asal China Kerja di Indonesia 

Another News SDMSabtu, 22 September 2018
images-5

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Indonesia sebanyak 74.183 orang.  Sementara 21.271 di antaranya berasal dari China, disusul Jepang dan lain-lain.

“Tapi sebagian dari kita sudah terkencing-kencing merasa dijajah oleh China,” kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam pernyataan tertulis viral termasuk diterima BeritaTrans.com di Jakarta, Sabtu malam.

Data yang dipaparkan Moeldoko menyebutkan, sebanyak 252.000 TKI bekerja di Taiwan.  Tapi rakyat Taiwan merasa dijajah Indonesia ?

Saat ini, lanjut dia, jumlah TKI yang bekerja di China 81.000. Sementara TKI di Hongkong 153.000, di Macau 16.000, apakah rakyat China, Hongkong dan Macau. “Mereka tisak merasa di jajah oleh Indonesia,” jelas Moeldoko.

Kehadiran TKA di lndonesia tak sama dengan mereka menjajah kita. Dengan panjang lebar, mantan Panglima TNI itu memberikan ilustrasi bahwa kondisi tersebut berlaku dimana-mana bukan hanya Indonesia unsich.

“China menguasai surat utang Amerika US$ 1.15 Triliun. Apakah otomatis Amerika dicaplok oleh China ? Tidak,” kata Moeldoko.

“Kemudian Arab investasi di China 870 Triliun.  Apakah rakyat China terkencing-kecing merasa dijajah oleh Arab ?  Tidak,” jelas Moeldoko.

“Amerika Investasi 122 Triliun ke Singapore, apakah warga Singapore otamatis jadi antek asing ? Tidak,” papar Moeldoko lagi.

“Mengapa rakyat negara-negara dimana TKI kita berkerja tersebut bisa bernalar dengan benar ?
Pasalnya,;mereka bisa membedakan antara bisnis dengan kedaulatan negara,” sebut Moeldoko.

Dunia Abad XXXl

Dunia abad XXI, menurut Moeldoko,  tidak dipetakan lagi oleh suku, ras dan agama.  Masyarakat modern sudah tidak mempermasalahkan lagi perbedaan keyakinan. Mereka bersama-sama membangun peradaban.

Sementara di sini (Indonesia), menurut Moeldoko, kondisinya tidak begitu.  “Yang didahulukan hanya kebencian karena takut berkompetisi dan takut kalah dalam persaingan hidup,” kilah dia.

Kemudian parahnya lagi, tambah Moeldoko,  dibalut dengan pemahaman sempit dalam beragama.(helmi)