Angkasa Pura 2

Hanya 12% Industri Galangan Kapal Ada di Indonesia Timur

OtomotifRabu, 26 September 2018
IMG-20180926-WA0004

IMG-20180926-WA0005

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Industri galangan kapal di lndonesia  masih terfokus di Indonesia barat. Hanya 12% galangan kapal   ada di Indonesia timur seperti Makassar, Morowali dan lainnya. Padahal, potensi pasarnya cukup menjanjikan.

“Kondisi tersebut cukup menjadi masalah untuk meningkatkan tingkah kandungan dalam negeri (TKDN) dalam  industri maritim nasional. Masalah ini perlu difikirkan demi kebaikan di masa mendatang,” kata Dirut PT Industri Kapal Indonesia (IKI) Edy Widarto dalam FGD Balitbang Perhubungan di Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Galangan kapal sebanyak 37% ada di Jawa, 26% di Sumatera dan Kalimantan 25%.  “Sedang di Indonesia timur yang wilayahnya hampir separuh wilayah Indonesia hanya 12%,” jelas Edy.

Menurut dia, permintaan kapal di Indonesia timur saat ini cukup tinggi, dengan  ragam dan jenis kapal yang berbeda-beda. Hal itu sejalan dengan pengembangan program Tol Laut belakangan.

“Namun karena masih tingginya komponen impor,  harga kapal masih tinggi. Tugas kita bersama, bagaimana bisa meningkatkan TKDN dalam  industri maritim nasional,” papar Edy.

Sementara, dari ratusan industri galangan kapal dalam negeri, hanya empat dari BUMN. Mereka itu adalah PT PAL, PT Industri Kapal Indonesia (IKI), PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (DKB), dan PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DKS).

Industri Komponen Lokal

Selain itu, Edy juga  mengusulkan industri pendukung atau komponen lokal bidang perkapalan juga harus ditingkatkan. “Sesuai  ketentuan UU, TKDN itu harus dioptimalkan. Tapi harus jujur, belum semua ada, sehingga terpaksa harus impor,” kilah Edy.

Saat ini, komponen lokal industri galangan kapal antara 35-40%. Tapi semua itu akan  tergantung jenis, tipe  dan ukuran kapal. “Jika TKDN bisa  ditingkatkan akan lebih bagus,”  kilah Edy.

Sementara, Adi Pradana dari Bappenas sebagai pembahas dalam FGD itu menyebutkan, saat ini sudah dikembangkan sedikinya lima kawasan ekonomi khusus  (KEK) termasuk di Morowali dan Konawe yang cukup luas.

“Di kedua KEK itu tersedia industri berbasis timah. Jika dikembangkan dengan baik, dari sana bisa memasok kebutuhan  komponen pendukung industri perkapalan di dalam negeri,” kata Adi.

Menurutnya, perlu kerja keras dan kepedulian semua pihak untuk membangun industri maritim di Tanah Air. “Selain industri perkapalan yang baik, juga harus didukung industri komponen perkapalan yang baik pula,” papar Adi.

Dengan industri komponen yang kuat, tambah Adi,  diyakini akan memberikan nilai tambah makin besar.

“Galangan kapal makin kuat, industri komponen pendukung juga tumbuh. Dengan begitu akan bisa membuka lapangan kerja baru dan nilai tambah untuk negeri ini makin besar,” tandas Adi.(helmi)