Angkasa Pura 2

Innotrans Wadah Perkembangan Teknologi Perkeretaapian

Emplasemen LitbangKamis, 27 September 2018
IMG-20180927-WA0048

JAKARTA (beritatrans.com) – Perkembangan teknologi perkeretaapian di dunia saat ini sudah sangat pesat, negara-negara maju telah menciptakan berbagai teknologi perkeretaapian untuk meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan keandalan fasilitas perkeretaapian.

“Salah satu wadah untuk memfasilitasi perkembangan teknologi tersebut adalah Innotrans 2018,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan Sugihardjo saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Teknologi Transportasi Perkeretaapian di Jakarta, Kamis (27/9/2018).

Innotrans merupakan pameran perdagangan terbesar di dunia yang diadakan 2 tahun sekali di Berlin, Jerman. Fokus pameran tersebut adalah pengembangan teknologi dan industri perkeretaapian.

“Banyak teknologi baru yang ditawarkan di Innotrans dan dapat kita terapkan di Indonesia jika anggaran tersedia,” kata Sugihardjo.

Salah satu produk yang dipamerkan dalam forum tersebut adalah Wessel buatan Voestalpine (Austria) yang menggunakan teknologi penggerak elektrohidraulik dan elektromekanik, sehingga meminimalisir biaya perawatan. Wessel tersebut menggunakan sistem failsafe, dimana jika terdapat kegagalan sistem, maka operasi kereta api dijamin tetap selamat karena dilengkapi dengan sistem manual dengan memutar knop untuk mengarahkan wessel.

Selain itu juga turut dipamerkan penghubung perlintasan buatan Rosehill Rail (Prancis) yang merupakan teknologi pengganti perkerasan di perlintasan sebidang. Material yang digunakan adalah karet berkualitas tinggi dan tahan terhadap cuaca, mampu menahan beban berat, serta dapat diterapkan di semua lebar jalan rel.

“Penghubung perlintasan ini dapat juga digunakan sebagai perkerasan di emplasemen stasiun guna memfasilitasi penyeberangan antar peron,” Katanya.

Indonesia sendiri menurut Sugihardjo, perlu menyusun strategi pengembangan teknologi dan industri pada sektor tranportasi perkeretaapian guna menetapkan pemilihan teknologi perkeretaapian yang sesuai untuk Indonesia, dan juga memantapkan peta industri perkeretaapian nasional.

“Sehingga pada gilirannya nanti Indonesia sudah tidak perlu mengimpor untuk pemenuhan kebutuhan sarana, prasarana, maupun fasilitas penunjang perkeretaapian nasional,” ujarnya. (aliy)