Angkasa Pura 2

Jangan Hanya Percaya Diri, ASN Kemenhub juga Harus Berkompeten

SDMRabu, 17 Oktober 2018
IMG-20181017-WA0005

IMG_20181017_083446

BOGOR (BeritaTrans.com) – Percaya merupakan hal yang penting dalam menjalankan suatu profesi. Tak terkecuali sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Perhubungan.

Namun, menurut Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Transportasi Cris Kuntadi, percaya diri saja tidak cukup.

“SDM (sumber daya manusia) yang percaya diri itu penting, namun jauh lebih penting adalah memiliki kompetensi,” tegas Cris di hadapan peserta Diklat Teknis Transportasi Tingkat III di Bogor, Selasa (16/10/2018).

Apalagi menurutnya, yang berkaitan dengan keselamatan transportasi. Kompetensi menjadi bagian utama dalan mewujudkannya.

Cris juga menyampaikan terkait materi manajemen transportasi, logistik multimoda, dan keselamatan. Kegiatan diawali dengan permainan motorik untuk meningkatkan konsentrasi dan mencairkan suasana.

“Porsi angkutan barang di Indonesia saat ini masih didominasi angkutan jalan raya padahal Indonesia adalah negara maritim. Porsi angkutan darat/ jalan raya 90%. Diikuti angkutan laut 7%, asdp 2%, kereta api 0.56%, dan udara 0.04%,” kata dia.

Angkutan darat menyebabkan kemacetan, kecelakaan, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) tinggi dan polusi udara. Sudah saatnya Indonesia sebagai negara maritim meningkatkan porsi angkutan laut dan menurunkan porsi angkutan darat.

IMG-20181017-WA0006

Untuk itu dibutuhkan SDM yang kompeten mampu menyelesaikan ketimpangan angkutan logistik agar menjadi lebih efisien, efektif, dan mengurangi beban jalan.

“Masalah logistik bukan hanya seaedar sarana prasarana. Tetapi harus dipikirkan bagaimana menarik pasar atau pengguna untuk menggunakan sarana prasarana tersebut. Bagaimana konektivitas dengan hinterland. Bagaimana ancaman ancaman yang dapat menghambat pengembangan sarana prasarana yang telah dibangun serta kawasan logistik,” urai Cris.

Manajemen Transportasi yang baik menjadi kunci untuk keberhasilan proyek yang menghasilkan outcome bukan sekadar output. Begitu pula dengan masalah keselamatan.

Pihaknya bukan hanya memikirkan infrastruktur tetapi juga melakukan pengendalian terhadap regulasi yang ada khususnya yang terkait dengan keselamatan.

“Angkutan darat ada di peringkat pertama dalam kategori angkutan yang tidak aman. Sementara angkutan yang paling aman adalah angkutan kereta,” tuturnya.

Negara maju seperti Singapura dan New Zealand mempunyai lembaga yang khusus menangani keselamatan angkutan darat (Land Safety Authority). Mereka sadar bahwa angkutan darat adalah angkutan yang paling rentan terhadap kecelakaan sehingga keselamatan angkutan darat menjadi prioritas utama dan harus ada instansi yang fokus pada pengendalian keselamatan.

“Kita juga bisa sama-sama mewujudkan keselamatan transportasi dengan tekad dan kerja nyata,” pungkas Cris. (omy)