Angkasa Pura 2

Prosedur Penerbitan Lisensi Pilot Berdasarkan CASR 61 dan ICAO Annex 1

Bandara KokpitSelasa, 6 November 2018
IMG-20181106-WA0004

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Menanggapi maraknya pemberitaan terkait pilot Indonesia yang tidak lulus dalam ujian Simulator Airbus di Australia namun mendapatkan lisensi di Indonesia, untuk menghindari kesimpangsiuran informasi Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan perlu menyampaikan bahwa semua itu berdasar pada CASR 61 dan ICAO Annex 1.

Selama ini menurut Pelaksana Tugas Dirjen Perhubungan Udara M. Pramintohadi Sukarno, Flight Simulator Airbus yang dipergunakan maskapai Indonesia berada di Dubai, Singapura, Miami, dan Toulouse dan belum pernah menggunakan flight simulator di Australia.

Pihaknya melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara telah berkomunikasi dengan provider penyelenggara training untuk pilot di Australia terkait hal ini, dan telah didapat konfirmasi bahwa belum ada pilot Indonesia yang melakukan training di sana.

“Prosedur penerbitan lisensi dan type rating yang dilakukan Ditjen Hubud telah mengacu pada regulasi Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 61 tentang Licensing of Pilots and Flight Instructors sesuai dengan ICAO Annex 1,” jelasnya ditulis Selasa (6/11/2018).

Untuk pelaksanaan training di luar negeri, tidak dapat diajukan perseorangan dan hanya dapat diajukan oleh perusahaan penerbangan yang ada di Indonesia dan mendapatkan persetujuan Ditjen Hubud. Pilot-pilotnya telah diseleksi terlebih dahulu oleh perusahaan penerbangan tersebut.

Untuk Pilot Indonesia lulusan sekolah pilot di luar negeri sudah memiliki pilot license dari otoritas penerbangan, artinya melalui ujian terbang (flight check) oleh otoritas penerbangan setempat. Selanjutnya pilot tersebut mengajukan pilot license Indonesia melalui proses konversi, yang mana akan melalui pelatihan kembali pada sekolah penerbangan yang ada di Indonesia.

“Kami akan selalu konsisten terhadap ketentuan penerbangan Internasional khususnya proses lisensi pilot dengan mengacu kepada CASR 61 dan ICAO Annex 1,” kata Pramintohadi. (omy)