Angkasa Pura 2

Melirik Jalur Jalan Rel Semarang-Yogyakarta

Destinasi Emplasemen KoridorJumat, 9 November 2018
Djoko Setijowarno1

2018-11-09 09.04.00

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Akhir-akhir ini gencar sekali keinginan Pemrov. Jawa Tengah untuk membangun jalan Tol Bawen-Yogyakarta dianggap sebagai kelanjutan jaringan Tol Semarang-Bawen. Keinginan itu cukup kuat setelah dimasukkan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk menopang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.

Untuk mendukung KSPN Borobudur telah ditetapkan adanya jaringan jalan Tol Bawen-Yogyakarta sepanjang 71,5 kilometer. Sesungguhnya, daerah tujuan wisata membutuhkan banyak orang yang berkunjung, bukan banyak kendaraan yang hadir. Dengan banyaknya kendaraan, pengusaha pariwisata harus menyediakan lahan parkir yang cukup luas. Lebih berfaedah jika lahan tersebut untuk pengembangan wisata.

Transportasi umum ke Borobudur
Justru sebenarnya yang perlu dipikirkan pemerintah adalah akses dan jaringan angkutan umum ke lokasi ke lokasi wisata yang harus mendapat prioritas untuk memperbanyak pelancong hadir. Tuir ke Malaysia dan Thailand lebih besar jumlahnya daripada yang ke Indonesia. Kata kuncinya, selain informasi dan layanan, juga tidak ketinggalan akses jaringan transportasi umum.

Di Indonesia, untuk mengujungi lokasi wisata harus menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Sangat minim sekali tersedianya transportasi umum yang terjadwal menuju lokasi wisata. Mestinya pemerintah mendorong swasta untuk menyediakan sarana transportasi umum yang terjadwal dari Kota Semarang, Solo dan Yogyakarta, sehingga bagi perorangan yang akan ke Borobudur tidak perlu menyewa kendaraan.

Demikian pula untuk lokasi wisata yang lain, hendaknya tersedia jaringan layanan transportasi umum yang rutin. Jika kita ke Malaysia, akan mengunjungi Tanah Genting Kra, sudah tersedia bus umum di KL Centre, Stasiun Kereta di pusat Kota Kuala Lumpur.

Selama ini turis dari sejumlah kapal pesiar yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang sudah bisa dan terbiasa ke Borobudur pulang pergi dengan menyewa bus menggunakan jalan yang sudah ada (Tol Semarang-Bawen dan ruas jalan Bawen-Magelang). Bahkan, bisa singgah melihat Museum KA Ambarawa yang sekarang sudah tertata dengan apik. Jika nanti melewati Tol Bawen-Yogya, bisa jadi turis tidak akan singgah lagi melihat Museum KA Ambarawa lagi, sehingga bisa kehilangan pemasukan dari turis kapal mewah.

Tidak harus semua kawasan wisata harus ada akses jalan tol. Jalan umumpun sudah cukup, tinggal bagaimana mengelola jalan yang ada. Ruas jalan Magelang-Semarang memang menjadi jalur truk pasir. Karena muatannya berlebih menyebabkan laju kendaraaa lain menjadi terganggu.

Angkutan truk pasir ini yang perlu dikelola dan dialihkan ke jalan rel. jika nanti jalan Yogyakarta-Magelang-Bawen belum cukup lebar, bisa dibangun menjadi empat lajur. Lebih murah dan mudah dilakukan. Sekarng sudah terbangun jalan lingkar Ambarawa dengan empat lajur tidak mengganggu lagi aktivitas lalu lintas di Kota Ambarawa yang kerap didera kemacetan terutama di Pasar Projo.

Dalam Rencana Strategis (Renstra) Bidang Perkeretaapian Kementerian Perhubungan 2020-2024, terdapat tiga lintas KA yang menjadi terget diaktifkan, yaitu lintas Purwokerto-Wonosobo, lintas Semarang-Rembang dan lintas Kedungjati-Secang-Magelang-Yogyakarta.*Djoko Setijowarno/ helmi

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari