Angkasa Pura 2

Perawatan Pesawat di GMFAA, Sriwijaya Air Utang Rp433 Miliar ke Garuda Indonesia

KokpitJumat, 16 November 2018
2018-11-16 07.05.25

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Maskapai PT Garuda Indonesia Tbk, melalui anak usahanya PT Citilink Indonesia mengambil alih pengelolaan finansial dan operasional Sriwijaya Air dan Nam Air. Pengambilalihan tersebut dalam bentuk Kerjasama Sistem Operasi (KSO) diduga lantaran Sriwijaya Air memiliki utang kepada Garuda Indonesia.

Berdasarkan laporan keuangan Garuda Indonesia pada September 2018, yang dikutip cnnindonesia.com, Sriwijaya Air memiliki utang pemeriksaan menyeluruh (overhaul) 10 mesin pesawat sebesar US$9,33 juta atau sekitar Rp139,3 miliar (kurs JISDOR akhir September Rp14.929 per dolar AS). Rencananya, Sriwijaya Air akan melunasi utang tersebut dengan mengangsur selama 36 bulan.

Selain itu, ada pula utang perawatan pesawat sebesar US$6,28 juta atau sekitar Rp92,75 miliar dan Rp119,77 miliar yang telah dianjak piutang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

Total kedua utang tersebut mencapai sekitar Rp433 miliar. Kedua utang tersebut merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Siriwijaya Air atas jasa perawatan pesawat pada anak usaha perusahaan, PT Garuda Maintanance Facility Aeroasia (GMFAA).

Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air sebelumnya menandatangani Kerja Sama Operasi (KSO) pada 9 November 2018. Melalui kerja sama tersebut, Garuda Indonesia mengambil alih pengelolaan operasional dan finansial Sriwijaya Air dan Nam Air.

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara menjelaskan kerja sama ini ditujukan untuk memperbaiki operasi dan keuangan Sriwijaya Air Group. Hal ini dimaksudkan agar Sriwijaya Air mampu memenuhi kewajiban mereka terhadap pihak ketiga, yang di antaranya masih berada di lingkup Garuda Indonesia Group.
Sementara dikonfirmasi mengenai besaran utang Sriwijaya Air,

Sekretaris Perusahaan Garuda Indonesia Ikhsan Rosan enggan menjawab. Ia hanya memaparkan kerja sama antara Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air akan menguntungkan bagi kedua perusahaan.

“Poin kami, kerja sama ini tentu positif, terutama untuk meningkatkan pangsa pasar,” jelas Ikhsan.

CNNIndonesia.com juga sudah mencoba mengkonfirmasi terkait besaran utang tersebut kepada Direktur Utama Sriwijaya Air Chandra Lie. Namun, hingga kini belum ada jawaban resmi.

(moy/sumber: cnnindonesia.com).