Angkasa Pura 2

Dirjen Hubla Berharap Rakornas Ditlala Jadi Ajang Konsolidasi dan Evaluasi Angkutan Laut

DermagaKamis, 22 November 2018
20181122_135516

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut (Ditlala) Direktorat Jenderal Pehlrhubungan Laut Kementerian Perhubungan menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) 2018 mulai hari ini Kamis hingga Jumat (22-23/11/2018) di Marlyn Park Hotel Jakarta.

Direktur Jenderal Perhuhungan Laut dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa Rakornis Ditlala tahun 2018 dengan tema “Wujudkan Transportasi Digital Angkutan Laut Dalam Mendukung Logistik, Penataan Pelabuhan Serta Konektivitas yang Sinergi dan Berkelanjutan” ini bertujuan untuk menyatukan dan menguatkan persepsi terkait kebijakan dan operasional bidang angkutan laut di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Khususnya yang mengemban tugas dan fungsi lalu lintas dan angkutan laut pada Unit Pelaksana Teknis di daerah atau pelabuhan.

“Saya memandang kegiatan ini sebagai langkah yang baik untuk melakukan konsolidasi dan evaluasi terhadap berbagai permasalahan dan isu yang berkembang di bidang angkutan laut,” katanya.

Dirjen Agus berharap Rakornis ini akan tercipta tata kelola Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Laut yang baik guna membangun perilaku aparatur yang memiliki integritas tinggi, produktif, akuntabel, dan bertanggung jawab. Sehingga mampu memberikan pelayanan yang prima kepada para stakeholders atau pemangku kepentingan di pelabuhan.

Dirjen Agus juga menyampaikan bahwa Bank Dunia baru saja merilis Logistic Performance Index (LPI) 2018, hasilnya dari seluruh negara menempatkan Indonesia di posisi ke-46 dengan skor 3,15 atau naik dari posisi sebelumnya dalam  LPI 2017 di peringkat ke-63 dengan skor 2,98.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hal yang signifikan mengingat masih banyak kendala-kendala yang dihadapi Indonesia terutama menyoal biaya logistik yang terbilang masih tinggi.

Adapun LPI didasarkan pada enam aspek yaitu, efisiensi customs dan border management clearance (bea cukai), kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional, kompetensi dan kualitas jasa logistik, kemampuan melakukan tracking dan tracing, dan frekuensi pengiriman tepat waktu.

Pada kesempatan itu Dirjen Agus juga menyampaikan bahwa Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengemban tugas untuk melaksanakan program strategis nasional dalam rangka mewujudkan Nawa Cita melalui visi Poros Maritim lewat program konektivitas transportasi laut yang saat ini lebih di kenal dengan istilah angkutan perintis dan Tol Laut.

Keberadaan pelayaran perintis dan Tol Laut dalam memberikan pelayanan untuk mobilitas penduduk dan pemenuhan bahan pokok pada derah-daerah terpencil mempunyai peran besar terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia, mengingat kebutuhan akan jasa angkutan laut semakin meningkat sejalan dengan kondisi geografis Negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau.

Di tahun 2018 untuk pelayaran perintis terdapat 46 trayek dilayani oleh BUMN PT. Pelni (Penugasan) dan 67 trayek dilayani oleh perusahaan swasta (pelelangan umum), dan Kementerian Perhubungan telah mengoperasikan 15 trayek kapal angkutan barang di laut (Tol Laut) dan 3 trayek tambahan yang menyinggahi daerah-daerah yang masuk ke dalam kategori daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan.

“Diharapkan daerah-daerah yang dilalui program Tol Laut ini dapat menumbuhkan pusat-pusat industri dan perdagangan baru sehingga mempu meningkatkan perekonomian daerah tersebut,” ujarnya. (aliy)

loading...