Angkasa Pura 2

Litbang Perhubungan Uji Coba Alat Pendeteksi Wind Shear dan Standing Water Level

BandaraMinggu, 25 November 2018
IMG-20181125-WA0038

SUMENEP (beritatrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Perhubungan melakukan uji lapangan alat pendeteksi Wind Shear atau angin samping dan Standing Water Level atau ketinggian air di landas pacu (runway) Bandara Trunojoyo, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Minggu (25/11/2018).

Uji lapangan alat hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Jawa Timur ini dipimpin langsung oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapiluslitbang) Perhuhungan Udara Badan Litbang Perhuhungan Moh. Alwi.

IMG-20181125-WA0046

“Dua alat itu sangat berguna untuk preventif action atau mencegah terjadinya kecelakaan di bandara, terutama saat landing dalam kondisi hujan lebat dan cuaca buruk,” kata Moh. Alwi.

Menurut Moh Alwi, alat wind shear dan water level merupakan hasil kerja sama penelitian yang berbasis riset (research based) antara Badan Litbang Perhubungan dengan ITS.

IMG-20181125-WA0036

“Sudah saatnya Badan Litbang tidak sekadar menghasilkan buku-buku hasil penelitian yang menumpuk di perpustakaan, melainkan mulai melakukan penelitian yang kemudian diimplementasikan di lapangan,” kata Moh. Alwi.

Melania Suweni Muntini, Ketua Peneliti Bidang Instrumentasi ITS, khususnya pengembangan sensor dan pengukuran mengatakan bahwa kedua alat ini sangat penting bagi keselamatan penerbangan, terutama dalam proses take off dan landing pesawat.

IMG-20181125-WA0039

Kecelakaan pesawat yang sering terjadi di bandara adalah akibat terkena wind shear dan kondisi runway yang terlalu banyak air. Salah satu dampaknya adalah terjadihya overshoot atau tergelincir ke luar landasan.

“Dengan kedua alat ini potensi kecelakaan dengan penyebab angin samping dan ketinggian air di landas pacu dapat dicegah semaksimal mungkin,” kata Melania.

IMG-20181125-WA0041

Melania menjelaskan, kedua peralatan hasil penelitian ini sangat berbeda fungsi karakternya, dan peralatan hasil penelitian ini harus memenuhi kriteria yang diwajibkan sesuai dengan peraturan di Indonesia CASR 139 (civil Aviation safety regulation) dan atau MOS 139 (manual of Standar) tentang kondisi permukaan landasan.

Beberapa kriteria yang diinginkan untuk alat ukur tersebut misalkan maksimum 25% landas pacu tergenang air dengan ketinggian maksimum 3 mm.

IMG-20181125-WA0044

“Selain itu persyaratan yang harus dipenuhi adalah bahwa semua peralatan juga harus memenuhi beberapa peryaratan baik dimensi maupun strukturnya sehingga tidak membahayakan bagi pesawat,” katanya.

Uji lapangan di Bandara Trunojoyo tersebut melibatkan juga stakeholder terkait seperti Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (aliy)

loading...