Angkasa Pura 2

Dibutuhkan 620.000 Pilot Baru Pesawat Komersial Selama 15-20 Tahun Mendatang

Kokpit SDMSenin, 3 Desember 2018
pilot-cantik-Indonesia

LONDON (BeritaTrans.com) – Saat kebakaran hutan melanda negara bagian California, Amerika Serikat, Agustus lalu, badan yang paling bertanggung jawab untuk mengatasi api menghadapi kendala tambahan. Paling tidak 20% dari armada pesawat yang digunakan sebagai pemadam kebakaran tidak terbang.

Sebenarnya tidak ada masalah teknis, hanya saja kekurangan pilot yang menerbangkannya.

Dan ini bukanlah masalah yang dihadapi pasar tertentu saja.

Pada Mei, muncul berita bahwa Emirates, salah satu maskapai komersial terbesar dunia, berencana tidak menerbangkan pesawat untuk sementara waktu karena berbagai alasan, salah satunya adalah “masalah dalam penjadwalan pilot”.

Sepanjang bulan-bulan yang lalu, maskapai murah Ryanair, salah satu yang terbesar di Eropa, menghadapi pemogokan pilot yang memicu pembatalan ribuan penerbangan.

Perusahaan memandang pemogokan disebabkan “kesalahan penjadwalan”, tetapi media Eropa mengutip sumber pegawai yang mengatakan terjadi eksodus pilot ke maskapai-maskapai lain.

Berbeda dengan di sejumlah bagian dunia, Indonesia justru mengalami kelebihan pilot, terutama terkait dengan ratusan pilot muda yang masih belum mendapatkan pekerjaan.

Mereka tak bisa langsung bekerja di maskapai di luar Indonesia karena menghadapi beberapa kendala, seperti soal persyaratan jam terbang, kata Rama Noya, ketua umum Ikatan Pilot Indonesia, kepada Nuraki Aziz yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

“Setelah tahun 2005, karena perkembangan industri penerbangan cukup tinggi, jumlah pilot memang agak berkurang. Tetapi saat ini jumlah pilot sudah mencukupi. Data pilot pastinya masih belum ada semua, tetapi data yang kami kumpulkan, total jumlah pilot baru yang tercetak hingga tahun 2017 kemarin, kurang lebih sekitar 600-an,” kata Rama.

Ia menjelaskan bahwa untuk pilot yang memiliki jam terbang cukup tinggi, sudah banyak yang ke luar negeri.

Tapi bagi yang belum memiliki jam terbang yang cukup, tentu tidak mudah.

“Pilot harus memiliki type rating, misalkan untuk dapat menerbangkan pesawat Boeing 737 mereka harus memiliki type rating itu. Atau untuk bisa terbang Airbus A320, mereka harus memiliki rating itu,” jelas Rama.

“Sementara pilot-pilot baru ini mereka baru lulus untuk basic flying. Kita juga terkendala oleh aturan di mana mereka membutuhkan minimum 1.500 jam untuk menerbangkan pesawat jet. Pilot-pilot baru, mungkin mereka hanya memiliki 250,” katanya.

BANDARA PENUH SESAK

Sekitar 620.000 pilot baru diperlukan untuk menerbangkan pesawat komersial dalam 15-20 tahun ke depan, menurut badan PBB, International Civil Aviation Organisation (ICAO).

Sederhananya, kita memang jauh lebih banyak melakukan perjalanan udara dibandingkan masa lalu.

Menurut data Bank Dunia, sekitar 311 juta orang menggunakan pesawat udara pada tahun 1970.

Sekitar 40 tahun kemudian, jumlah orang yang melakukan perjalanan udara menjadi lebih dari 2,6 miliar.

Jumlah penumpang naik menjadi 4,1 miliar di tahun 2017, kata badan usaha maskapai dunia, International Air Transport Association (IATA) dan pada tahun 2036 diperkirakan akan mencapai 7,8 miliar.

“Ini sebenarnya soal hukum persediaan dan permintaan, pasokan rendah dan permintaan tinggi,” jelas mantan pilot komersial, Peter Gall.

“Ketidaksetaraan ini menciptakan gangguan serius dan kelangkaan akan semakin parah,” tulis pengajar Mechanical and Aerospace Engineering di West Virginia University di situs The Conversation pada bulan Juli.

2018-12-02 21.04.10

Pertumbuhan perjalanan udara terutama didorong oleh peningkatan pesat yang terjadi di kawasan Asia-Pasifik.

Di China saja, 549 juta orang terbang di tahun 2017, menurut ICAO – angka itu naik dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Edisi terbaru laporan tahunan yang diterbitkan pembuat pesawat Amerika, Boeing, memperkirakan kawasan itu akan memerlukan 260.000 pilot tambahan di tahun 2037.

Masalah lain adalah pilot yang ada sekarang semakin tua.

Kajian pengembang simulator penerbangan, CAE, memperlihatkan pada tahun 2016 proporsi pilot profesional yang berusia di atas 50 tahun hampir setengah dari jumlah keseluruhan pilot yang tersedia.

Pilot biasanya pensiun pada usia 60 hingga 65 tahun.

Meskipun demikian di beberapa negara telah dilakukan penambahan batasan usia untuk memperlambat pensiunnya para pilot berpengalaman.

Di Jepang misalnya, usia pensiun dinaikkan menjadi 67 tahun pada tahun 2015.

Tetapi strategi yang biasanya diterapkan maskapai adalah “mencaplok” pilot maskapai penerbangan lain.

Tahun lalu, Chinese Civil Aviation Administration menyatakan terdapat 1.332 pilot asing dari 56 kewarganegaraan, ini berarti hampir 10% dari jumlah keseluruhan.

Mereka pindah ke perusahaan Cina karena tertarik dengan paket gaji bebas pajak yang dapat mencapai sampai US$500.000 atau Rp7,3 miliar per tahun.

Menggantikan orang sudah tidak bekerja juga bukan persoalan sederhana.

Kelangkaan pilot dapat dilihat di kawasan dengan sumber daya manusia yang lebih sedikit seperti di Afrika.

South African Airways (SAA), yang mengalami sejumlah masalah keuangan, meminjamkan pilot dan awak mereka ke maskapai Timur Tengah sebagai bagian dari upaya penghematan.

“Kami mengkhawatirkan kelangsungan hidup maskapai dan tujuan utama kami adalah melindungi pegawai SAA serta kinerja keuangan yang kembali positif,” kata juru bicara perusahaan itu pada bulan Juni lalu.

KARIER BERMASALAH?

Jadi mengapa sulit untuk menghasilkan pilot? Salah satu masalahnya adalah terkait dengan biaya.

Para calon sering kali harus membiayai sendiri pelatihan mereka. Angkanya dapat mencapai US$200.000 atau Rp2,9 miliar agar calon mencatat jam terbang yang diperlukan untuk menerbangkan pesawat yang lebih besar.

Di samping itu, gaji dalam jumlah besar yang ditawarkan Cina bukanlah hal yang umum dalam industri penerbangan.

Di AS, para pengamat mengatakan gaji pertama pilot hanyalah US$15.000 atau Rp219 juta per tahun, di bawah upah minimum rata-rata negara itu.

“Tiga alasan utama kekurangan pilot yang terampil adalah biaya pelatihan, persyaratan pemeringkatan, dan gaji,” kata Patrick Smith, pilot dan ahli penerbangan yang menjalankan askthepilot.com.

2018-12-02 21.04.29

Terkait dengan peningkatan rekrutmen, ini sebenarnya sebuah kesempatan untuk mengatasi ketidaksetaraan jender dalam profesi ini.

Air Line Pilots Association International, serikat terbesar sektor penerbangan memperkirakan hanya sekitar 5% pilot di dunia yang berjenis kelamin perempuan, India di peringkat atas dengan 13%, lebih dari dua kalinya jumlah di Inggris (4,8%).

“Tidak terdapat cukup panutan di bidang penerbangan. Apalagi profesi ini semakin tidak menarik dan hanya sedikit maskapai yang menerapkan jadwal kerja dan kebijakan yang ramah bagi pegawai berkeluarga,” kata Tanja Harter dari European Cockpit Association (ECA).

“Pilihan karier untuk menjadi pilot perlu lebih diperjelas bagi kaum perempuan muda,” kata pilot yang sudah menerbangkan pesawat jet komersial selama 15 ini.

Terdapat juga desakan terhadap maskapai untuk meningkatkan subsidi bagi pembentukan program pelatihan pilot baru, di samping memperluas pelatihan.

Meskipun demikian, ini adalah sebuah jalan keluar yang justru dapat menekan anggaran maskapai.

Bisnis penerbangan secara umum berjalan dengan baik, yang menurut data IATA memperlihatkan keuntungan tahun 2017 pada perusahaan terbesar dunia mencapai angka tertinggi US$38 miliar atau Rp554 triliun.

Tetapi biaya tenaga kerja menjadi yang lebih tinggi menjadi salah satu alasan yang diberikan, ketika organisasi tersebut baru-baru ini mengumumkan pemotongan sebesar 12% perkiraan keuntungan tahun 2018.

KELANGKAAN

Tetapi tidak semua pihak percaya akan terjadi krisis kelangkaan.

Lewat sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan Maret, ECA mempertanyakan data kekurangan dan menyatakan angka dari asosiasi pilot nasional mengisyaratkan tingkat pengangguran sebesar 15% pilot-pilot di Eropa.

2018-12-02 21.04.49

Tanja Harter mengatakan ia mempertanyakan apakah memang ada kelangkaan pilot.

Ia menduga “ada agenda sejumlah pihak” yang sepertinya menginginkan peraturan keselamatan diperlonggar untuk mendapatkan pilot bagi maskapai-maskapai tertentu dengan ongkos yang lebih murah atau untuk mendongkrak keuntungan perusahaan pelatihan pilot.

_103782541_2c6a9077

Meskipun demikian ICAO menegaskan perlu investasi yang lebih besar agar dihasilkan pilot, pengawas, dan profesi lain dengan keahlian tinggi agar industri penerbangan berjalan sesuai dengan keinginan banyak pihak.

“Sekitar 80% pilot yang mestinya aktif di industri penerbangan pada 2036 nanti, sekarang ini tidak tersedia. Kami sangat menyadari pentingnya keterkaitan industri perjalanan udara sebagai katalisator pembangunan sosial dan ekonomi.”

“Di banyak kawasan dunia, kemungkinan pertumbuan ini merupakan kesempatan untuk bangkit dari kemiskinan,” kata juru bicara ICAO, William Raillant-Clark.

(aisha/sumber: BBC Indonesia).

loading...