Angkasa Pura 2

Di Depan Ribuan Driver Ojol dan Taksi, Menhub Budi Karya Paparkan Distribusi Barang dan Jasa Ke Daerah Makin Lancar

KoridorSelasa, 4 Desember 2018
IMG-20181204-WA0047

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pemerintah telah berupaya memeratakan harga dan distribusi komoditas seperti bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Pemerintahan Jokowi-JK benar-benar berpihak pada rakyat, termasuk di daerah terluar, terdepan,dan terbelakang (3T).

Kebijakan BBM satu harga ini sangat menolong, terutama bagi warga di daerah remote, seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Natuna dan lainnya.

“Kini, mereka bisa membeli BBM dengan harga yang sama dengan di Jawa,” sebut Menhub Budi Karya daam Dialog Nasional 36 di Hall Basket Senayan, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Dikatakan, “sekarang Pertalite di Papua Rp 8.000, Pertamax Rp9.700. Jadi tak jauh beda. Ini proses untuk ciptakan keadilan,” kata Menhub disambut tepuk tangan peserta Dialog Nasional 36 itu.

Seperti diketahui, kekita 1500 driver Blue Bird, Grab, Go-Jek, Organda berkumpul dalam acara Dialog Nasional Indonesia Maju. Ruangan itu dipadati orang-orang berseragam hijau dan biru. Mereka menjadi ajang sosiasliasi kebijakan RPM menganei angkutan sewa khusus atau angkutan online ini.

Sementara, pengamat transportasi dari MTI Darmaningtyas mengatakan, dengan BBM satu harga dan program Tol Laut dampaknya sangat luar biasa. “Harga barang dan jasa, termasuk di daerah seperti Papua, Maluku Utara, Natuna dan lainnya kini turun drastis, karena ada kapal reguler kesana, BBM juga dijual dengan satu harga,” kata Tyas, sapaan dia menyakinkan.

Selama ini, kalau harga BBM di Jawa naik Rp100 per liter sudah ribut tak karuan. Sementara, di Papua harga BBM naik sampai Rp10.000 per liter hampir tak dipedulikan. “Itukan tidak adil, karena mereka sama-sama WNI dan bagian dari NKRI,” kilah Tyas.

Pamong Peguruan Taman Siswa itu menambahkan, pembangunan jaringan transportaasi baik darat,laut, dara sera kereta api sudah semakin baik. Distribusi logistik makin cepat lancar dan murah. “Itu prestasi yang perlu dijaga dan ditingkatkan,” harap Tyas.

Dia juga mengusulkan, pembangunan jalan trans Papua, Trans SUawesi dan Trans Kalimantan perlu diteruskan dan dioptimalkan. “Pembangunan jangan lagi Jawa Sentris, karena daerah lain seperti Papua, Kalimanand an lainnya jauh lebih membutuhkan,” papar Tyas.

“Jalan itulah yang akan menjadi urat nadi sistem logistik nasional. Pembangunan ekonomi dan sosila pun akan semakin baik dan lancar jika jalan-jalan tersebut sudah selesai dan dioperasikan,” tandas Tyas.(helmi)