Angkasa Pura 2

Balitbanghub Bahas Sarana Pendukung Angkutan Laut Melalui FGD

Dermaga LitbangKamis, 13 Desember 2018
IMG-20181212-WA0061

YOGYAKARTA (BeritaTrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbanghub) membahas sarana pendukung angkutan laut melalui gelaran Focus Group Discussion (FGD) di Yogyakarta, Selasa (11/12/2018).

Belum optimalnya tol laut, terutama pada hinterland di sekitar pelabuhan singgah dan belum memadainya angkutan jalan raya serta belum adanya sarana dan prasarana angkutan sungai dan penyeberangan pada daerah pedalaman dan pulau-pulau di sekitar pelabuhan singgah, mengakibatkan distribusi komoditas yang dibawa oleh armada tol laut belum optimal.

“Terbatasnya sarana dan prasarana transportasi angkutan sungai dan penyeberangan mengakibatkan rendahnya aksesibilitas wilayah dan keterisolasian sehingga berdampak pada harga barang dan kebutuhan pokok yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga di daerah lainnya di Indonesia,” jelas Kepala Balitbanghub Sugihardjo.

FGD mengambil tema ‘Studi Kebutuhan Sarana dan Prasarana Transportasi Sungai dan Penyeberangan dalam Mendukung Jaringan Tol Laut. Bahasannya juga terkait “Studi Penerapan Motorized Container Barge Jakarta-Surabaya Dalam Rangka Mengurangi Beban Lalulintas Jalan di Utara.

Dari hasil penelitian, menunjukan beberapa dermaga penyeberangan yang masih menggunakan dermaga angkutan laut seperti pelabuhan Dobo, Fak-Fak, dan Kaimana.

Sementara itu, masih terdapat pelabuhan penyeberangan yang tidak beroperasi dikarenakan terjadinya pembebasan lahan dan pendangkalan serta terdapat lokasi pelabuhan penyeberangan yang lokasinya cukup jauh dari pelabuhan laut.

Disamping permasalahan tol laut, terdapat permasalahan beban jalan Jakarta menuju Surabaya atau sebaliknya dari tahun ke tahun menjadi sangat padat. Penelitian dilatarbelakangi oleh padatnya jalur pantura sebagai jalan utama di Pulau Jawa yang mengakibatkan kemacetan dan polusi sehingga menimbulkan biaya ekonomi yang tinggi.

“Pergerakan barang dari DKI, Banten dan Jawa Barat ke Jawa Timur sebanyak 47.217.632 ton dan dari Jawa Timur ke 3 provinsi tersebut sebesar 97.702.428 ton,” paparnya.

Pihaknya mengusulkan motorized container barge guna menormalkan kembali lalu lintas barang di jalur pantura. Volume Capacity (VC) Ratio saat ini sudah sebesar 1,2 sedangkan normalnya adalah 0,7.

“Bila sebagian muatan dipindahkan ke jalur laut, maka diharapkan VC Ratio akan kembali normal,” pungkas Sugihardjo. (omy)

loading...