Angkasa Pura 2

Potensi Mewujudkan Bandara Perairan dan Seaplane Dibahas Bersama

Bandara Emplasemen LitbangJumat, 14 Desember 2018
IMG-20181214-WA0004

IMG-20181214-WA0005

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Potensi mewujudkan bandara perairan dan pengoperasian Seaplane dibahas bersama melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan.

FGD mengusung tema “Study Potensi Untuk Ditetapkannya Lokasi Bandar Udara Perairan Dan Untuk Pengoperasian Pesawat Udara Perairan (Seaplane) Di Indonesia”.

“Ini merupakan bagian dari kegiatan untuk mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan (stakeholders) terkait (regulator, operator, pemakai, asosiasi profesi, akademisi, dan publik) yang sangat diperlukan untuk menajamkan substansi studi,” tutur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) Sugihardjo di Jakarta, Kamis (13/12/2018).

Melalui keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses penyusunan laporan akhir kegiatan Studi Potensi Untuk Ditetapkannya Lokasi Bandar Udara Perairan Untuk Pengoperasian Pesawat Udara Perairan (Seaplane) di Indonesia, diharapkan dapat diperoleh kesepahaman dari berbagai pihak terkait penyelenggaraan bandar udara perairan di Indonesia.

Bandara perairan kata dia, sangat diperlukan di Indonesia mengingat Indonesia adalah Negara kepulauan dengan luas perairan baik laut, sungai maupun danau menempati porsi kurang lebih 70% atau 2/3 dibandingkan dengan luas daratan.

“Sektor pariwisata yang melibatkan pantai di dalamnya mendominasi perkembangan kawasan wisata di Indonesia, yang berupa wisata bahari dan pantai,” ungkap dia.

Banyaknya pulau dengan lokasi yang berjauhan, memerlukan sarana transportasi yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan kapal laut. Kemajuan sektor pariwisata pantai membuka peluang penggunaan seaplane dalam perspektif wilayah berbasis perairan (laut/danau) di Indonesia.

“Terkait dengan hal tersebut di atas, perlu dilakukan pembahasan yang komprehensif untuk dapat memberikan masukan guna penyempurnaan kegiatan studi potensi untuk ditetapkannya lokasi bandara udara perairan dan untuk pengoperasian pesawat udara perairan (seaplane) di Indonesia supaya lebih baik lagi,” imbuh Sugihardjo.

FGD dimoderatori Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara Ir. Moh. Alwi, MM. Menghadirkan tiga pembicara diantaranya, Tim Konsultan Multikonsulindo Mandiri, Ir. Nur Hakim; Dosen ITB, Dr. Hisar M Pasaribu; dan Kabid Angkutan Pelayaran dan Penerbangan, Dinas Perhubungan Prov. Kepri, Tri Musa Yudha. (omy)

loading...