Angkasa Pura 2

Survei Instran Penghasilan Pengemudi Angkutan Online Hanya Setara UMR

Koridor SDM Telekomunikasi & PosMinggu, 23 Desember 2018
Darmaningtys

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Institut Studi Transportasi (Instran) melakukan survei mengenai pengemudi angkutan online baik kendaraan roda empat/ taksi online dan ojek online (Ojol) di berbagai kota di Indonesia. Ternyata, penghasilan mereka setara dengan UMR, bukan seperti yang dipromosikan pihak aplikator sampai Rp8 juta per bulan bahkan lebih.

“Hasil survey menunjukkan penghasilan sebagian besar pengemudi ojek onlinerata-rata antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari. Di luar itu, mayoritas mendapatkan bonus dari aplikator dengan nilai kurang dari Rp40 ribu per hari,” kata Diektur Instrans Darmaningtyas saat dikonfirmasi BeritaTrans.com di Jakarta, Mnggu (23/12/2018).

Pendapatan tersebut, lanjut dia, belum dikurangi dengan beban biaya operasional, seperti bensin (antara Rp10 ribu hingga Rp25 ribu per hari), ongkos paket internet (Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per bulan), biaya perawatan kendaraan (Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per bulan), dan biaya makan (Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per hari).

“Kalau dikurang-kurang, hampir sama dengan upah minimum Jakarta (Rp 3,3 juta),” kata Darmaningtyas lagi.

Ironinya, menurut Istran, penghasilan sebesar itu diperoleh setelah mayoritas mereka (57,7 persen) bekerja 12 jam per hari atau lebih. Ini melampaui jam kerja pekerja formal penuh waktu yang mencapai delapan jam per hari. “Ini perbudakan modern, eksploitasi besar-besaran,” kata Rusli.

Survei juga mengungkap bahwa apa yang diklaim sebagai ekonomi berbagi (sharing economy) itu ternyata menjadi pekerjaan utama mayoritas responden. Sebanyak 77 persen pengemudi taksi online dan 71,7 persen pengendara ojek online menjadikan pekerjaan tersebut sebagai mata pencaharian utama mereka.

Hanya 23 persen (taksi online) dan 28,3 persen (ojek online) yang menyatakan pekerjaan itu hanya sampingan. “Jadi, klaim tentang ekonomi berbagi itu hanya benar 23 persen untuk taksi online dan 28,3 persen untuk ojek online,” kata Darmaningtyas.

Instran melakukan survei selama tiga bulan sejak September hingga November. Dilakukan di Jabodetabek, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali, survei berhasil menjaring 300 responden pengemudi taksi online dan 300 pengendara ojek.

Instran mengakui jumlah responden belum bisa dikatakan merepresentasikan pendapat seluruh pengemudi taksi dan pengendara ojek online. Karena keterbatasan waktu, survei juga baru bisa menjangkau 600 responden. “Ini masih hasil sementara,” ujar Darmaningtyas.

Dari hasil survei, mayoritas pengemudi, atau lebih daripada 30 persen, menyatakan penurunan pendapatan akibat aplikator yang terus menerima pendaftaran. Sebagian lainnya, atau sekitar 20 persen responden, menilai tarif per kilometer yang rendah menjadi faktor utamanya.

“Kemudian, sekitar 17 persen menganggap kebijakan aplikator menurunkan bonus dan menaikkan target sebagai penyebabnya,” tegas Darmaningtyas.(helmi)

loading...