Angkasa Pura 2

Impor BBM Perlu Dikurangi dan Produksi Energi Alternatif Ditambah

Energi KoridorKamis, 27 Desember 2018
SPBU_Pertamina_Baru-2016

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia akan berdampak buruk bagi perekonomian nasional. Kondisi itulah yang perlu disikapi bersama, agar tidak memberatkan ekonomi nasional. Solusinya, impir BBM dikurangi dan energi alternatif pengganti BBM ditambah.

Yang pasti, dampak tingginya impor BBM membuat cadangan devisa tergerus, melemahkan nilai tukar rupiah, dan membuat lemahnya ketahanan energi nasional sehingga berdampak pada krisis energi masa depan.

Fakta selama ini, kebutuhan BBM dalam negeri terus meningkat. Pasokan BBM biasanya diusahakan dari produksi dalam negeri maupun impor.

Menurut data Reforminer Institute, saat ini produksi minyak Indonesia sebesar 775.000 barel per hari, jauh di bawah konsumsi BBM dalam negeri sebesar 1,3 juta barel per hari.

Sementara, kebutuhan BBM Indonesia pada 2040 diperkirakan mencapai 3,47 juta barel per hari, sedangkan produksi nasional hanya 695.000 barel per hari sehingga dibutuhkan impor 2,77 juta barel per hari.

Konsumsi BBM diproyeksikan masih akan terus mendominasi beberapa tahun ke depan, apabila pengembangan energi baru terbarukan (EBT) lamban dilakukan.

Berdasarkan data pemerintah, total kebutuhan energi nasional sebesar 1.030 MTOE, sementara pada 2017 bauran energi EBT mencapai 11%.

Tekan Impor BBM

Guna mengantisipasi itu, Pemerintah terus berupaya mengembangkan sumber-sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM. Energi alternatif itu, yakni bahan bakar nabati, panas bumi, biomassa, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin.

Akhir-akhir ini, Pemerintah gencar mengembangkan biodiesel sebagai salah satu energi alternatif terbarukan. Biodiesel sangat potensial mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil seperti minyak bumi. Perhatian serius terhadap EBT pun terus ditunjukkan pemerintah.

Salah satunya dengan memandatkan pencampuran 20% fatty acid methyl ester (FAME) BBM jenis solar untuk sektor industri dan transportasi. Walaupun pada pelaksanaannya, mandatori B20 itu belum optimal.

Hal itu ditunjukkan dengan berbagai realitas yang terjadi dalam penyediaan. PT Pertamina (Persero) sebagai penjual biofuel belum mampu melakukan secara optimal di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) karena terbatasnya pasokan.

Realisasi mandatori biodiesel 20% (B20) hingga Oktober 2018 telah mencapai 95%. Realisasi tersebut naik sekitar 10% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.(helmi)

loading...