Angkasa Pura 2

Ketergatungan pada BBM Impor Tinggi, Program B20 Belum Optimal

Energi KoridorKamis, 27 Desember 2018
IMG-20181227-WA0003

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro berpendapat, tingginya impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia makin sulit dihindari karena lambannya pengembangan energi baru terbarukan.

“Hingga saat ini, harga energi terbarukan masih sulit bersaing dengan energi fosil sehingga penggunaannya sulit digenjot dalam waktu singkat. Sementara fokus kebijakan pemerintah Indonesia adalah harga energi yang terjangkau,” kata Komaidi saat dikonfirmasi BeritaTrans.com di Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Dikatakan, pengembangan energi terbarukan cenderung tidak diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, tapi lebih menurunkan tarif.

“Kenapa panas bumi sampai hari ini tidak berkembang signifikan di Indonesia? Lagi-lagi masalah bisnis. PLN punya kepentingan menjaga tarifnya. Kalau subsidi listrik tidak ditambah, mereka rugi. Jadi energi terbarukan didorong bukan untuk bauran energi, tapi untuk menurunkan tarif listrik,” jelas Komaidi.

Mandatori B20 Belum Optimal

Komaidi menyebut terkait program mandatori biodiesel 20% (B20) sebagai contoh lain. Biodiesel digenjot terutama bukan untuk meningkatkan pemakaian energi hijau, tapi memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“B20 di-drive untuk memperbaiki nilai tukar, bukan pengembangan EBT. Begitu juga mobil listrik, teknologinya masih mahal,” papar Komaidi.

Komaidi juga mengungkapkan, di Jerman populasi kendaraan listrik baru 10% dari seluruh kenda – raan bermotor. Begitu juga di Indonesia, mobil listrik tidak serta-merta segera menggantikan mobil-mobil berbahan bakar minyak.

“Di Jerman populasi mobil listrik baru 10%. Kalau ke eko no – mian nggak dapat, nggak bisa jalan. Negara maju saja baru segitu,” tegas Komaidi.(helmi)

loading...