Angkasa Pura 2

Dirjen Polana Geber Keselamatan Penerbangan & Serapan Anggaran

Figur KokpitSenin, 31 Desember 2018
Polana B Pramesti-1

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) perempuan pertama di Kementerian Perhubungan, Polana B Pramesti tidak hanya langsung berjibaku dalam membangun level keselamatan dan keamanan penerbangan. Dirjen Perhubungan Udara ini juga mengurusi pembangunan proyek transportasi udara, yang menjadi elemen penting dalam serapan anggaran.

Alumni Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengemukakan capaian yang sudah diperoleh tidak boleh mengendur dan menurun, namun harus terus menanjak hingga ke puncak angka terbaik.

IMG-20181231-WA0000

Hasil On Site Visit ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) yang dilakukan pada 10-18 Oktober 2017 lalu, nilai efektivitas implementasi Indonesia mencapai 81,15%. Jauh di atas rata-rata efektivitas implementasi negara-negara lain di dunia yakni 62%.

Dengan hasil ini, jika dibandingkan dengan negara-negara di Asean, Indonesia menduduki rangking ke-2 di bawah Singapura. Sedangkan kalau di antara negara-negara Asia Pasifik, Indonesia masuk dalam peringkat ke 55 yang sebelumnya berada pada peringkat 151.

“Namun hasil audit ICAO masih belum banyak yang belum terpenuhi. Pemenuhan supaya peringkat lebih baik lagi karena saat ini masih ada yang dibawah 70,” tutur mantan Kepala Seksi Mutu Konstruksi Sipil Ditjen Perhubungan Udara tersebut.

Polana B Pramesti

Seperti terkait organisasi yang nilainya masih 65 dan saat ini pihaknya mencoba menaikkan. Sesuai dengan rekomendasi di ICAO maka revisi PM 189 sedang diproses mengakomodir apa yang direkomendasi USOAP.

Selanjutnya terkait pemisahan operator dan regulator, masing-masing direktorat. Kata dia, diharapkan dalam waktu dekat bisa keluar PM penggantinya.

Polana juga menegaskan akan terus meningkatkan pengawasan pada seluruh penyekenggara penerbangan dalam mewujudkan 3S+1C (safety, security, services, dan complay). “Safety is our bisnis. Selalu dipertahankan dan ditingkatkan,” kata perempuan yang pernah ditugaskan sebagai Direktur Teknik Angkasa Pura I tersebut.

Pihaknya tidak saja sekadar mempertahankan penilaian yang sudah diperoleh namun juga berupaya sekuatnya untuk peningkatan.

IMG-20181228-WA0148

Serapan Anggaran 2018

Hingga penghujung tahun 2018 tepatnya 28 Desember 20189 serapan anggaran di Ditjen Hubud kata Polana mencapai 88,76 persen dari total Rp9,177 triliun atau terserap Rp8,05 triliun. Pihaknya masih menargetkan akan tercapai hingga 89,5 bahkan tembus 90 persen hingga 31 Desember 2018.

Beberapa pekerjaan juga akan memeroleh persetujuan tambahan 90 hari yakni pada pembamgunan Bandara Buntu Kunik, yang menggunakan anggaran revisi dan digunakan akhir tahun serta Bandara Timika.

IMG-20181230-WA0059

“Ada beberapa kendala hingga serapan Ditjen Hubud tidak mencapai target,” ujar Polana.

Kendala yang muncul di antaranya adalah terkait kesiapan lahan, keamanan seperti di wilayah Papua, dan karena faktor cuaca.

Tantangan lainnya adalah yang di luar perkiraan seperti kendala terutama di Papua, karena banyak area yang sulit dijangkau. gangguan, durasi pengiriman material, mendatangkan alat berat, dan mobilisasi.
Selain itu juga pada serapan anggaran penerbangan perintis, dimana diantaranya karena minimnya minat perusahaan, karena keterbataaan pesawat. Lelang pada akhirnya tidak tercapai seperti untuk rute Enggano-Bengkulu.

“Kami sepakat rencana dibuatkan payung kontrak bukan lagi lelang tiap tahun atau multiyears, karena akan memberikan keleluasaan perusahaan untuk meningkatkan kinerja dan mengembangkan usahanya,” kata dia.

Partisipasi Pemda dalam penerbangan perintis juga sangat baik. Hanya saja bila ingin memeroleh subsidi PSO (public sevice obligation) maka harus mengikuti tender lelang tidak bisa dengan penugasan langsung. “Saat ini ada tiga operator perintis yakni maskapai Demonim, Susi Air, Airfast,” ungkapnya. (omy).

loading...