Angkasa Pura 2

KA Bandara Soetta Baru Manfaatkan 70 Slot dari 82 yang Disediakan

Bandara EmplasemenRabu, 9 Januari 2019
railink-krl-bandara-inka-trial-run-01-takagi

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Peningkatan pelayanan transportasi yang terintegrasi  akan melayani perjalanan penduduk Jabodetabek yang saat ini mencapai 47, 5 juta perjalanan per hari harus dapat diwujudkan, dengan target capaian tersusun dalam Indikator Kriteria Utama (IKU).

“Mereka itu diantaranya pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum sebesar 40% pada tahun 2019 dan 60% pada tahun 2029,” kata Direktur Instrans Darmaningtyas di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Genap 1 tahun KA Bandara per 2 Januari 2018 telah dioperasikan oleh PT Railink,  lanjut Tyas, sapaan akrab dia, saat ini terdapat slot 70 perjalanan kereta dari 82 slot yang tersedia untuk KA Bandara Soetta.

“Apabila 1 rangkaian sarana KA Bandara SF6 eksisting berkapasitas 272 orang penumpang, maka total per hari mampu memuat 19.040 penumpang dari Bekasi-Jakarta – Bandara Soetta PP,” jelas Tyas pada acara Diskusi Publik 1 Tahun KA Bandara Beroperasi di Jakarta.

“Namun hingga November 2018 okupansi penggunanya  pada hari biasa 2.700 – 3.000 penumpang, hari Jumat bisa 4.700-5.000 penumpang dan hari Sabtu-Minggu sekitar 2.000 – 2.500 penumpang (Sumber: PT Raillink),” jelas Tyas.

IMG-20190109-WA0081

Target 60 Persen

Bila kita ambil angka paling banyak per hari 5.000 penumpang, okupansi keterisian masih 26%, belum ada LF 30% (bila 60% produksi normal).

“Okupansi 26% ini masih jauh dari harapan, orang berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi kepada transportasi berbasis rel menuju/dari Bandara Soetta,” papar Tyas.

Jika dirunut dengan menggunakan analogi matematis, bila penumpang KA Bandara dengan angka 20.000 / hari (optimis dari 19.040 penumpang di atas), maka equivalen dengan:

1. 10.000 kendaraan bermotor roda-2 ( 2 penumpang), atau
2. 5.000 mobil SUV/MPV (4 penumpang / mobil), atau
3. 500 bus (40 penumpang/bus).

KA Tak Berdiri Sendiri

Namun dalam hal ini moda transportasi kereta api tidak dapat berdiri sendiri dalam melayani pengguna bila ingin okupansi penggunanya bertambah.

Maka, tambah Tyas,  di setiap stasiun pemberhantian kereta api tetap diperlukan integrasi moda angkutan umum darat lain (angkota, bus feeder, dan taksi).

“Jadi dalam hal ini tetap diperlukan sinergi strategis untuk integrasi antar moda dengan angkutan umum darat lain yang berbasis jalan raya,” tandas Tyas.(helmi)

loading...