Angkasa Pura 2

KA Bandara Soetta Belum Diminati Masyarakat, Ini Masalahnya Versi Instrans

Bandara EmplasemenRabu, 9 Januari 2019
IMG-20190109-WA0082

IMG-20190109-WA0083

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Setiap hari, pergerakan penumpang mencapai 150.000 orang yang datang ke Bandara Soetta di hari normal. Peak hour lebih dari 200.000 penumpang pada hari libur seperti Lebaran dan Natal. Sayang, angkutan KA Bandara Soetta yang sudah  ada belum banyak diminati masyarakat.

“Bila angka optimis penumpang KA bandara 20.000/ hari maka akan mengurangi kepadatan ke arah bandara sebesar 10-14%,” kata Direktur Instrans Darmaningtyas di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Menurutnya, Pemerintah berkewajiban memberikan apresiasi dan menjaga masyarakat yang menggunakan transportasi massal/KA karena agar tetap menggunakan transportasi publik.

“Dengan tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi, maka praktis tidak menambah kemacetan di jalan raya. Selain itu juga masih banyak manfaat lain yang bisa dinikmati,” jelas Tyas, sapaan akrab dia.

Dengan naik KA Bandara menuju Bandara Soetta, secara langsung atau tidak telah memberikan kontribusi pada sistem transportasi  umum, khususnya di wilayah Jabodetabek.

Adapun keuntungan  lain, menurut Tyas, sebagai berikut:

1. Mengurangi emisi karbon di alam
2. Mengurangi kepadatan jalan raya (lalu lintas lancar)
3. Mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, dan
4. Mengurangi penggunaan BBM di jalan raya

Permasalahan KA Bandara

Pada kesemapatan itu, Tyas menyampaikan berbagai permasalahan yang diihadapi KA Bandara Soetta saat ini.

Dari hasil kajian Instrans atau  reviu 1 tahun dan evaluasi KA Bandara di antaranya:

1. Masih rendahnya tingkat keterisian (load factor) KA Bandara karena lemahnya perencanaan makro dan mikro sehingga kurang kurang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya yang dapat memudahkan pengguna untuk berpindah moda.

2. Tidak adanya sinkronisasi kebijakan antar BUMN Transportasi yang dapat saling mendukung untuk berpindahnya dari mobil pribadi ke angkutan KA Bandara.

Mereka itu  misalnya adanya perluasan ruang parkir di Bandara Soetta yang sebetulnya justru mendorong masyarakat untuk lebih banyak menggunakan mobil pribadi daripada mengunakan angkutan umum massal.

3. Lemahnya perencanaan tersebut terlihat dari keberadaan destinasi KA di Stasiun Bandara Soetta yang hanya ada di satu titik saja. Kemudian pengguna dihantarkan dengan feeder skytrain menuju terminal 1, 2 dan 3, menyebabkan publik juga enggan menggunakan KA Bandara.

“Pasalnya, menggunakan KA Bandara dianggap terlalu merepotkan apabila dan kurang efisien, terlebih bila membawa bagasi yang banyak,” tegas Tyas.(helmi)

loading...