Angkasa Pura 2

FGD Pekanbaru, Direktur Ahmad Yani Sampaikan Kondisi Riil Angkutan Umum di Indonesia

SDMSenin, 21 Januari 2019
20190121_075749

20190121_075829

PEKANBARU (BeritaTrans.com) – Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat (Hubdat) Ahmad Yani, ATD, MT menjadi narasumber pada focus group discussion (FGD) di Pekanbaru, Riau akhir pekan lalu.

FGD dilakasanakan untuk menyikpai dinamika yang terjadi. Selain itu, juga dalam rangkaian pelantikan DPD IKAALL Pekanbaru, bersama BPTD Wilayah IV Riau dan Kepri.

Dalam FGD dengan menghadirkan pembicara diantaranya Bapak Samsuar (Gubri riau terpilih/Bupati Siak), Bapak Firdaus (Walikota Pekanbaru).

Dalam FGD itu, Ahmad Yani menyampaikan masala transportasi umum yang masih mengganjal dan perlu segera diseleaikan. lain itu, share angkutan umum harus terus ditingkatkan, sekaligus untuk menekan kasus kecelakaan di jalan raya.

“Masalah tersebut adalah trayek angkutan umum tumpang tindah, kelembagaan dan manajemen perusahaan tidak profeional,” jelas Yani.

Selain itu, kepemilikan dan manajemen operasional kendaraan yang dimiliki perseorangan. “Sampai saat ini, banyak PO atau angkot yang dikleola perseorang dengan manajemen keluarga yang masih kental,” papar Yani.

Akibatnya, sebut dia, sulit mengikuti dinamika dan pengelolaan/ manajemen perusahaan yang modern dan efisien. “Di tambah lagi, akan sukit dibina dan dikontrol oleh Pemerintah sebagai regulator,” kilah Yani.

Pengemudi dan Sistem Setoran

Kondisi tersebus mash diperparah dengan sikap perilaku dan kualitas SDM operator yang masih kurang. “Perilaku dan sikap mental pengemudi yang sering tidak terpuji, tak punya SIM sesuai kendaraan yang dioperasikan,” terang Yani.

“Sistem setoran/ harian sehingga mempenegruhi kerja pengemudi. Mereka berkerja lebh mengedepankan kerjar setoran, sehingga aspek ain termasuk keselamatan transportasi terabaikan,” aku Yani, alumni STTD Bekasi itu menambahkan.

Yang tak kalah pentingnya, tandas Yani, adalah pengunaan BBM tak efisien, karena armada sudah tua sehingga boros bahan bakar minyak (BBM).

“Kondisi makin parah, karena belum terintegrasi dengan moda lain serta kualitas pelayanan dan infrastruktur yang masih rendah,” tegas Yani.(helmi)

loading...