Angkasa Pura 2

Harus Dihentikan, ODOL Itu Yang Salah Orangnya

KoridorSelasa, 22 Januari 2019
Laka Maut Bumiayu1

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kasus kendaraan yang overdimension dan overloading (ODOL) masih terus terjadi. Padahal, Pemerintah melalui Kemenhub, Polri, Kementerian PUPR dan lainnya terus memberantas ODOL.

Truk ODOL memicu kusakan jalan yang makin cepat, dengan kerugian sanat tinggi. Menurut data Kementerian PUPR, kerusakan jalan akibat truk ODOL mencapai Rp42.5 triliun per tahun.

Selain itu, dampak negatif lainnya, ODOL juga bisa memicu kecelakaan bahkan sampai menelan korban jiwa sia-sia di jalan raya.

Beberapa kasus kecelakaan yang dipucu OOL sudah sering terjadi. Kecelakaan maut di fly over (FO) Kretek, Bumiayu, Brebes dipicu oleh truk yang overload.

Dua kasus laka maut di FO Kretek, Bumiayu, menurut hasil investigasi KNKT bersama tim Ditjen Hubdat dan Polri adalah karena overloding (kelebihan muatan).

Saat jalanan menurun, pengemudi tak bisa mengendalikan kendaraanya dan akhirnya menabrak krendaan, rumah bahkan rumah sakit di daerah Bumiayu, Brebes.

ODOL Harus Dihentikan

Belum lama ini. kasus kecelakaan yang terperosok ke jurang di daerah Pandandaran, Jawa Barat yang diduga akibat kelebihan muaan atau overloading.

“Meski tak ada korban jiwa, tapi kecelakaan terlebih yang dipicu oleh ODOL harus dihentikan,” sebut Darma Wijaya dari Dishub Pemkab Pangandaran.

Akademisi PKTJ Tegal dan Bunda SALUD
Suzie Trisusila mengatakan, dalam kasus kecelakaan akibat ODOL di Pangandaran “Yang salah bukan jalannya. Yang salah bukan truknya dan bukan pula yang salah yang menaruh muatan,” kata Suzie.

Namun, lanjut dia, dalam kasus ini, yang mempunyai andil besar dalam kecelakaan itu adalah pemilik barang. Yang membawa barang (pengemudi), dan yang mempunyai armada (operator).

Menurut Suzie, intinya (dalam kasus ODOL) , orangnya yang salah. Mereka bekerja tidak profesional. Sudah tahu melanggar ODOL masih dipaksakan jalan. “Pengemudinya juga ikut salah, paling tidak karena tak berani menolak membawa muatan yang melebihi batas,” tandas Suzie.

Erlina Indriasari, staf pengajar STTD Bekasi dan pejabat Ditjen Hubdat menambahkan, “intinya (dalam kasus) ODOL yang salah orang,” kata dia.

Menurut dia, semua pihak harus bekerja dan mengangkut barang/ jasa harus berkeselamatan. “Mulai pemilik barang, pemilik kendaraan serta operator kendaraan harus berani menolak ODOL,” papar Erlina.

“Jika sudah nyata-nyata (kendaraan) ODOL, jangan paksakan jalan. Dampaknya sangat berbahaya, bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungannya,” tandas Erlina.(helmi)

loading...