Angkasa Pura 2

Darmaningtyas: Men-DO Taruna Yang Lakukan kekerasan dan Memberikan Efek Jera

SDMJumat, 8 Februari 2019
Darmaningtyas Instrans

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sanksi tegas patut diberikan kepada siapapun yang bersalah, termasuk taruna BPSDMP. Dalam kasus kematian alm Aldama Putra Pangkola, perlu ada sanksi tegas. Hal ini patut dilakukan, untuk memutus mata rantai kekerasan apalagi sampai berujung kematian seperti di ATKP Makassar itu.

“Sanksi tegas itu bukan hanya berupa skorsing, tapi bisa dikeluarkan (drop out/ DO). Proses pemecatan itu juga dilakukan dimuka umum, orang tua koran dan lainnya untuk memberikan efek jera,” kata pengamat pendidikan dan Direktur Instrans Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Jumat (8/2/2019).

Tyas, sapaan dia mengusulkan, agar saat men-DO (mengelaurka) taruna yang melakukan kekerasan itu bukan hanya dikasih surat DO saja.

Tapi, dipecat melalui upacara yang disaksikan oleh semua taruna dan instruktur, serta orang tua korban biar mereka punya rasa  malu dan berdosa.

“Seperti tentara dan polisi kalau mememecat anggotanya, melewati upacara terbuka,” jelas Tyas yang juga pamong Perguruan Taman Siswa itu lagi.

Mengapa harus dipermalukan? Menurut Tyas, biar mereka jera, dan taruna yang masih ada akan berhati-hati jika akan melakukan kekerasan lagi.

Jangan Anggap Sepele

“Jangan anggap sepele menghilangkan nyawa orang lain. Mari kita bayangkan, andaikan yang mati itu adalah anggota keluarga kita, seperti apa dendam kita pada pembunuh,” tanya Tyas lagi.

Men-DO taruna yang melakukan kekerasan dengan surat DO biasa, kilah Tyas, tidak akan membuat jera mereka. Taruna yang masih ada pun akan mudah berbuat serupa, karena menganggap saksinya ringan.

“Kita bisa mengambil contoh pendidikan di SMA Kanisius Jakarta. Siapa yang ketahuan menyontek dikeluarkan dari sekolah. Ternyata, sanksi itu bisa diterima semua pihak,” tandad Tyas.(helmi)

loading...