Angkasa Pura 2

Kemenhub-Airnav Uji Coba ATFM dan A-CDM

Bandara KokpitSelasa, 12 Februari 2019
IMG_20181229_051718

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Udara bersama Lembaga Perum Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav)uji coba serta exercise implementasi Air Traffic Flow Management (ATFM) untuk program penyediaan layanan lebih efisien.

Bersama Penyelenggara Bandara juga akan menyiapkan exercise implementasi Airport Collaborative Decision Making (A-CDM). kegiatan ATFM maupun A-CDM. Melibatkan komponen-komponen dari airlines, operator Ground Handling, BMKG dan juga Militer.

“ATFM dan A-CDM sangat penting untuk mengoptimalkan kapasitas ruang udara dan bandara udara guna pengoperasian penerbangan yang lebih efektif dan efisien di Indonesia,” Kepala Subdirektorat Standarisasi dan Prosedur Navigasi Penerbangan Direktorat Navigasi Penerbangan Mohammad Hasan Bashory mewakili Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti menyampaikan di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Keduanya penting kata dia, karena berkaitan dengan efisiensi penerbangan. Sebagai contoh jika suatu bandara terkendala, maka melalui sharing information dapat dimitigasi lebih awal, kepada pesawat yang akan terbang ke sana.

Dengan demikian pesawat tersebut akan bisa melakukan penyesuaian. Karena jika tetap terbang dia akan berpotensi mengalami holding, divert bahkan return to base (RTB) dan akan terjadi pemborosan bahan bakar.

Menurutnya, pengambilan keputusan (decision) terkait diperbolehkan atau tidaknya suatu penerbangan pesawat akan disampaikan melalui sistem yang terintegrasi antar stake holder.

“Dengan begitu, bila terjadi pengurangan kapasitas di ruang udara maupun di bandara, maka akan diberlakukan Ground Delay Program, yaitu pesawat akan diminta untuk tetap di darat hingga kondisi di bandara tujuan ataupun di ruang udara yang terkena dampak sudah clear. Perencanaan operasional bagi maskapai juga dapat disusun lebih baik,” paparnya.

Hasan mencontohkan, ATFM dan A-CDM biasanya digunakan di bandara yang mengalami kendala yang disebabkan cuaca buruk, gunung meletus maupun kegiatan militer.

Kendati begitu, ATFM dan A-CDM bukanlah hal baru. Keduanya pernah dilakukan secara taktikal saat penutupan Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Ngurah Rai Denpasar karena dampak erupsi Gunung Agung, Gunung Ruang, dan Rinjani serta saat pertemuan IMF dan World Bank di Denpasar.

“Dengan penerapan sistem ATFM dan A-CDM di Indonesia, maka pengoperasian pesawat dapat direncanakan dengan lebih efektif dan efisien,” pungkas Hasan. (omy)

loading...