Angkasa Pura 2

Kemenhub: Tak Mungkin Hapus Aturan Tarif Batas Bawah Tiket Pesawat

KokpitKamis, 14 Februari 2019
2018-07-05 13.57.42

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kementerian Perhubungan menegaskan tidak mungkin menghapus aturan tarif batas bawah tiket pesawat.

Menteri Budi Karya Sumai mengutarakan dalam persoalan penerbangan tidak hanya mempertimbangkan masalah ekonomi saja namun juga keselamatan.

“Jadi kalau kita menetapkan tarif terlalu bawah atau bahkan tidak ada sama sekali maka itu tidak mengedukasi maskapai dengan kualifikasi yang pantas jadi kita mengabaikan keselamatan,” kata usai meninjau percobaan moda raya terpadu (MRT) di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Budi menegaskan harga tiket yang dijual maskapai juga terdapat unsur yang berkaitan dengan operasional. Sementara yang paling penting dalam dunia penerbangan, kata Budi, menurutnya tetap keselamatan penumpang dan awak kabin.

Sementara itu, mengenai tarif pesawat yang saat ini dinilai masih mahal maka menurutnya selama masih berada di dalam koridor tarif batas atas dan bawah tidak masalah. “Itu kewenangan hak dari Indonesia National Air Carriers Association (INACA) dan operartor. Kami tidak boleh masuk ke dalam konteks itu,” ungkap Budi.

Dia menjelaskan jika pemerintah juga turut mengendalikan tarif tersebut di luar koridor batas atas dan bawah maka dianggap intervensi. Tapi secara moral, kata Budi, Kemenhub menyarankan INACA dan operator memperhatikan kemampuan masyarakat terhadap kenaikkan harga tiket pesawat .

“Seharusnya relatif tidak terlalu berat. Paling tidak 15 persen masih oke. Kita lihat nanti bahwa diskon 20 persen itu dari angka besar atau tengah,” ujar Budi.

Saat ini Garuda Indonesia Group mengumumkan penurunan harga tiket untuk semua rute penerbangan sebesar 20 persen. Direktur Utama Garuda Indonesia Adi Askhara mengatakan penurunan harga tiket tersebut dilakukan mulai hari ini (14/2/2019).

Dengan begitu, Ari menegaskan semua maskapai di bawah Garuda Indonesia Group yaitu Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, Sriwijaya Air, NAM Air menerapkan penuruan harga tiket tersebut untuk semua rute penerbangan. “Ini sejalan dengan komitmen dan upaya peningkatan akses konektivitas udara bagi masyarakat,” kata Ari, Kamis (14/2).

Selain itu, Ari menegaskan penurunan tarif tiket pesawat tersebut juga merupakan tindak lanjut dari inisiasi awal Indonesia National Air Carrier Association (INACA). Sebab, sebelumnya penurunan harga tiket menurut Ari baru berlaku di beberapa rute penerbangan.

KOMPONEN.TARIF

Namun, apa sebenarnya komponen yang mempengaruhi harga tiket?

Ketua Umum INACA IGN Ashkara Danadiputra sebelumnya mengatakan saat ini komponen biaya avtur mendominasi sekitar 40 persen dari struktur biaya operasional maskapai. Tak ayal, INACA meminta pemerintah menurunkan harga avtur.

Kendati demikian, INACA memastikan bahwa harga avtur tidak secara langsung mengakibatkan harga tiket pesawat menjadi lebih mahal. “Beban biaya operasional penerbangan lainnya, seperti leasing pesawat, maintenance dan lain lain memang menjadi lebih tinggi di tengah meningkatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat,” tulis Ashkara.

Lihat juga: Polemik Harga Avtur dan Lonjakan Harga Tiket Pesawat

Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman menjelaskan harga tiket pesawat memang dipengaruhi oleh biaya operasional yang harus ditanggung maskapai. Selain avtur, biaya operasional maskapai mencakup biaya sewa pesawat, biaya perawatan dan asuransi pesawat, dan gaji pegawai. Sementara selain biaya operasional maskapai, komponen pajak bandara yang kini sudah menyatu dengan harga tiket pesawat juga turut mempengaruhi.

Sebagian besar biaya operasional tersebut, diakui Gerry, dibayarkan maskapai dalam mata uang asing. Oleh karena itu nilai tukar rupiah pun turun mempengaruhi biaya yang ditanggung maskapai dan kemudian berpengaruh kepada harga tiket.

Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut, menurut dia, harga tiket pesawat memang bersifat fluktuatif atau dapat berubah sesuai dengan musim. Biasanya pada musim ramai (peak season), seperti musim liburan, harga tiket pesawat meningkat tajam. Namun, biasanya harga tiket pesawat akan kembali turun.

“Sebenarnya harga tiket pesawat itu fluktuatif, tetapi yang menjadi pertanyaan kenapa menaikkan harga tiket disaat musim sepi penumpang,” ujar Gerry kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/2).

Ia menilai alasan maskapai menaikkan tarif akibat harga avtur yang mahal tak masuk akal. Apalagi harga minyak sudah bergerak melemah dan nilai tukar rupiah mulai bergerak menguat.

Lihat juga: Patuhi Jokowi, Garuda Turunkan Harga Tiket 20 Persen Hari Ini

“Sejak awal tahun, minyak sudah melemah dan kurs rupiah sudah membaik, jadi tidak ada banyak alasan sebenarnya mematok harga tiket mahal,” jelas dia.

Seharusnya, menurut dia, maskapai transparan dalam menaikkan harga tiket pesawat. Masyarakat, menurut dia, berhak mengetahui komponen apa yang membuat tarif pesawat di Tanah Air tiba-tiba meningkat.

“Di Industri mungkin ada yang percaya walaupun harga tiket mahal tetap ada yang membeli. Maskapai seharusnya sadar kalau tiket mahal, pembeli juga sepi. Petugas bandara pun sudah bilang ada penurunan penumpang,” ungkap dia.

Untuk itu, menurut dia, sudah sewajarnya maskapai menurunkan tarif pesawat. “Tak perlu Presiden Jokowi minta harga tiket pesawat turun, dan presiden juga sebenarnya tidak berhak mengatur tarif,” terang dia.

(jasmine).

loading...