Angkasa Pura 2

Skiplagging, Trik Dapat Tiket Pesawat Lebih Murah, Mengapa Maskapai ‘Membencinya’?

KokpitJumat, 22 Februari 2019
images (21)

LONDON (BeritaTrans.com) – Seorang penumpang diajukan oleh maskapai penerbangan Jerman, Lufthansa, ke pengadilan karena menghanguskan tiket.

Dokumen pengadilan yang didapat CNN menunjukkan penumpang tersebut membeli tiket rute Seattle di Amerika Serikat ke Oslo di Norwegia, dengan transit di Frankfurt.

Penumpang tadi turun di Frankfurt dan tidak melanjutkan penerbangan ke Oslo.

Praktik ini biasa disebut skiplagging dan sebenarnya sering dilakukan oleh penumpang yang ingin mendapatkan harga tiket yang lebih murah.

Penerbangan ‘kota tersembuyi’

Penerbangan tidak langsung biasanya transit di satu kota penting atau di bandara penghubung.

Ongkos penerbangan tidak langsung dapat menjadi lebih murah dibandingkan penerbangan langsung ke kota tujuan akhir karena harga tiket maskapai didasarkan pada permintaan.

_105711698_gettyimages-1047834620
Hak atas foto: GETTY IMAGES
Pada sejumlah kasus adalah lebih murah bagi penumpang untuk melakukan penerbangan tidak langsung untuk mencapai suatu tujuan, dan tidak melakukan bagian terakhir dari perjalanannya.

“Contoh, harga tiket penerbangan langsung yang ditawarkan Alaska Airlines dari Seattle ke Columbus adalah US$250 (Rp3,5 juta). Maskapai American Airlines tidak melayani rure langsung Seattle-Columbus, tapi untuk bersaing dengan Alaska Airlines, mereka menawarkan harga yang sama, tapi dengan berhenti di Chicago,” kata Tracy Stewart, editor situs perjalanan Airfarewatchdog.com kepada BBC.

Stewart menjelaskan, penumpang yang ingin terbang dari Seattle ke Chicago mungkin akan membeli tiket Seattle-Chicago-Columbus karena lebih murah dibandingkan dengan rute langsung Seattle-Chicago.

Penumpang tidak perlu melanjutkan perjalanan dari Chicago ke Columbus karena memang tujuannya adalah ke Chicago.

“Ini adalah kelemahan yang dapat dengan mudah dieksploitasi,” kata Stewart.

Apakah ini sering dilakukan penumpang?

Para pengamat yang diwawancara BBC mengatakan skiplagging bukanlah hal baru.

Tetapi memang semakin banyak penumpang yang menggunakan trik tersebut.

“Maskapai-maskapai penerbangan selama puluhan tahun menjual tiket lebih murah dengan terbang melalui bandara operasional utama mereka, karena dengan begitu mereka bisa memangkas biaya operasional,” kata pengamat John Grant dari JG Aviation Consultants.

_105711700_gettyimages-1124575065
Hak atas foto GETTY IMAGES
Para pengamat mengatakan selama berpuluh tahun maskapai tidak mempermasalahkan “skiplagging”.

“Selama bertahun-tahun maskapai tidak mempermasalahkan penumpang yang menghanguskan tiket untuk bagian akhir perjalanan. Karena kursi tetap terisi,” tambahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, penumpang yang ingin memakai trik ini terbantu dengan munculnya situs-situs internet yang secara khusus memberi tahu penumpang mendapatkan skiplagging.

Maskapai tidak menyukai praktik ini dan maskapai Amerika Serikat, United Airlines menggugat situs Skiplagged.com pada tahun 2014 karena dianggap melakukan “persaingan yang tidak sehat”.

Kasus ini kemudian ditolak pengadilan Chicago karena masalah jurisdiksi.

Maskapai menyatakan praktik ini membuat mereka kehilangan keuntungan karena kehilangan pemasukan dari perjalanan penumpang ke tempat yang dituju dan kesempatan untuk menjual kursi juga hilang.

Penumpang yang dituntut Lufthansa, misalnya, bermaksud mengunjungi Berlin pada perjalanan kembali, yang dilakukannya setelah menghanguskan tiket penerbangan Frankfurt-Oslo.

Maskapai Jerman membawa kasus ini ke pengadilan dengan mengklaim bahwa penumpang tersebut melakukan pelanggaran kontrak dan meminta ganti rugi sekitar US$2.300 atau Rp32 juta, nilai yang Lufthansa anggap hilang karena skiplagging.

Tetapi pengadilan di Berlin menolak tuntutan tersebut pada bulan Desember.

Juru bicara Lufthansa mengatakan pihaknya akan mengajukan banding.

Tracy Stewart, editor situs perjalanan Airfarewatchdog.com, mengatakan Lufthansa mengeluarkan uang lebih banyak untuk membiayai kasus ini dibandingkan dana yang hilang karena penumpang tidak naik ke penerbangan lanjutan dari Frankfurt ke Oslo.

“Tetapi mereka ingin menyampaikan sebuah pesan,” kata Stewart.

Sebelumnya sejumlah maskapai menghilangkan akun mileage penumpang yang terbukti melakukan skiplagging.

(moy/sumber: BBC Indonesia)

Apakah penumpang merugi?

_105711754_gettyimages-1124780327
Hak atas foto GETTY IMAGES
Perubahan saat terakhir maskapai dapat merusak rencana penumpang.

Penumpang yang ingin menggunakan trik ini mau tidak mau harus membawa sedikit barang, karena bagasi biasanya baru dapat diambil kota tujuan akhir.

Terdapat juga risiko bahwa penerbangan akan dialihkan ke bandara lain karena cuaca buruk atau kejadian tidak terduga lainnya.

Tetapi keuntungan yang didapat lebih tinggi dari risiko yang mungkin terjadi, kata para pengamat.

“Kita tentu bisa paham dengan penumpang yang ingin menghemat. Apalagi sistem tiket maskapai sendiri jelas-jelas memiliki kecacatan,” kata Stewart.

loading...