Angkasa Pura 2

Johnson: Puluhan Ribu Kapal Pakai B20

DermagaSabtu, 23 Februari 2019
2019-02-23 19.09.39

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pengusaha pelayaran menyatakan penggunaan bahan bakar B20 (biodiesel) untuk kapal selama ini berjalan lancar.

“Dapat dikatakan sudah tak menghadapi kendala samasekali. Lancar-lancar atau baik-baik saja. Pulihan ribu kapal berbendera Indonesia lancar menggunakannya,” tutur Johnson Williang Sutjipto, pengusaha kapal dan galangan kapal.

Kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Sabtu (23/2/2019), pemilik sekitar 100 kapal dan galangan kapal Mariana Bahagia itu menuturkan pada waktu awal diperkenalkan dan dipergunakan memang ada masalah.

Permasalahan itu ditimbulkan oleh dua hal yakni kualitas biodiesel yang membutuhkan perbaikan dan larutnya kerak di tangki bahan bakar.

Namun setelah Pertamina memperbaiki kualitas biodisel antara lain mengurangi lokasi pencampuran B20 dari 81 titik ke 15 titik sehingga kontrol pencampuran menjadi lebih ketat maka pemakaian B20 menjadi lebih baik.

Sedangkan larutnya kerak residu solar di tangki bahan bakar, hanya pada awal-awal penggunaan biodiesel. “Hanya butuh pwrgantian filter atau pembersihan filter maka sekarang sudah tidak ada masalah lagi,” jelas mantan kandidat Dirjen Perhubungan Laut itu.

Terlepas dari aspek itu, Johnson menegaskan penggunaan biodiesel oleh kapal membantu negara dalam mengurangi impor solar dan mengurangi potensi melorotnya devisa negara.

“Jadi kalau untuk negara, untuk bangsa, kita harus siap membantu serta berkorban. Jangan tawar-tawar lagi. Persoalan apapun bisa didialogkan. Contohnya ketika kami memberi masukan kepada Pertamina soal kualitas biodiesel, Pertamina cepat merespon,” tegasnya.

HEMAT RP28,4 TRILIUN

Sebelumnya pemerintah menyatakan berhasil menghemat Rp28,4 triliun di tahun 2018 berkat perluasan penggunaan bakar solar campuran minyak kelapa sawit 20% atau biodiesel 20% (B20). Penghematan tersebut berkat berkurangnya impor solar.

Angka tersebut berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, di mana pengguna B20 tercatat sebesar 4,02 juta kiloliter (kl).

“(B20) sedikit banyak tujuannya kurangi impor solar. Impor solar pasti perlu devisa. 4,02 juta kl yang gunakan B20 mampu hemat biaya sampai Rp 28,4 triliun, lumayan,” kata Dirjen EBTKE Rida Mulyana dalam paparan di kantornya, Selasa (8/1/2019).

Dengan capaian tersebut, Rida menganggap program perluasan penggunaan B20 berhasil sejauh ini. Diharapkan penyerapannya bisa meningkat di 2019.

“B20-nya sendiri yang jadi konsen kita bisa menyerap 4,02 juta kl, baik karena perluasannya pemanfaatan FAME, tadinya PSO saja, sekarang termasuk non PSO. Tahun ini dengan target lebih besar dari 4,02 juta kl,” jelasnya.

Produksi bahan bakar nabati (BBN) alias biodiesel sendiri sepanjang 2018 mencapai 6 juta kl. Angka tersebut naik dibandingkan 2017 sebesar 3,4 juta kl, sekaligus melampaui target 2018 sebesar 5,7 juta kl.

“Produksi BBN, tidak serta merta yang diserap untuk B20. Pemanfaatannya untuk dalam negeri dan ekspor. Dalam negeri ada yang untuk B20, ada yang digunakan untuk pabrik itu sendiri,” sebutnya.

“Untuk di 2018 produksi BBN 6 juta kl saya catat, dari 5,7 juta kl yang ditargetkan, 105% pencapaiannya,” tambah Rida.

Manajemen PT Pertamina (Persero) menyiapkan dua floating storage atau tempat penampungan untuk Fatty Acid Methyl Esters (FAME) yang merupakan bahan dasar dari biodiesel 20% (B20). Langkah itu dilakukan untuk memperlancar distribusi.

Menurut Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina, Ghandi Sriwidodo floating storage tersebut memiliki kapasitas sebesar 2 x 35 ribu kiloliter. Adapun lokasinya berada di Kalimantan dan Sulawesi.

“Untuk memasok kebutuhan (B20) di Kalimantan dan Sulawesi. 2 x 35 ribu kiloliter kapasitasnya,” kata dia ditemui di DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Ia mengungkapkan floating storage tersebut diharapkan bisa mempermudah pengumpulan FAME untuk diolah menjadi B20. Pasalnya selama ini, titik pengumpulan tersebut masih menjadi kendala, seperti keterlambatan.

“Jadi semua BU BBM yang punya alokasi di Balikpapan (akan), drop ke situ (floating storage). Supaya lebih efisien. Daripada mereka kirim ke Somlaki, Posi, Timika kemana-mana, ke Kendari, Bau-bau, Pare-pare, Palopo, mending drop situ saja,” jelas dia.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menegaskan tidak akan menunda implementasi campuran biodiesel 20 persen pada solar atau B20 bagi Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional (INSA).

“Tidak bisa pokoknya. Itu sudah kami diskusikan matang, jangan tiba-tiba di tengah jalan minta ditunda. Pokoknya dia tidak akan dapat,” kata Darmin di kantornya, Jumat (9/11).

Darmin menyatakan pengecualian konsumsi B20 hanya berlaku bagi pembangkit listrik yang menggunakan turbin aero-derivatif dan sistem persenjataan (alutsista). Selebihnya, sektor kegiatan penugasan pemerintah (PSO) dan non-PSO wajib menggunakan B20 sebagai bahan bakar.

Ketetapan itu sudah dibahas bersama Kementerian Perhubungan dengan melibatkan pengusaha, sehingga tidak ada alasan bagi sektor swasta untuk menunda implementasi B20. Perluasan cakupan penggunaan B20 dari hanya PSO menjadi PSO dan non PSO mulai berlaku sejak 1 September 2018.

“Kok ujug-ujug (tiba-tiba) swasta mau minta pengecualian. Sebenarnya, yang diperlukan adalah kalau mau dipakai mereka ganti dulu filternya. Kalau ada kotoran di tangkinya bersihkan dulu, karena fungsi B20 membersihkan dan menyabun,” ucapnya.