Angkasa Pura 2

Perang Tarif Aplikator Ojek Online, Merugikan Pengemudi dan Penggunanya.

KoridorJumat, 1 Maret 2019
Azas Tigorr

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Fakta miris terjadi beberapa hari beakangan, yaitu terjadi perang tarif ojek online (Ojol) yang kian rendah dan sangat murah dilakukan oleh kedua aplikator Ojol. Fenomena ini jelas merugikan, khususnya bagi mitra driver ojol di Tanah Air.

“Saat ini tarif Ojol nyaris menyentuh angka Rp1.000 per km dan diterima para pengemudi hanya sekitar Rp800 – Rp900 per km setelah dipotong komisi 20% oleh pihak aplikator setiap ordernya,” kata analis Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan kepada BeritaTrans.com di Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Menurutnya, klaim para aplikator bahwa tarif murah lebih disukai oleh para pengguna Ojol. Para aplikator juga mengatakan bahwa tarif murah merupakan salah satu alasan atau pendorong terus berkembangnya penggunaan Ojol.

“Pengakuan atau klaim aplikator ini sejalan logikanya dengan hasil penelitian yang dilakukan tersebut di atas. Artinya ada kaitan dekat antara keinginan aplikator dengan penelitian yang dilakukan sehubungan dengan adanya rencana pemenuhan kenaikan tarif Ojol,” jelas Tigor.

Rencana kenaikan tarif Ojol ini sejalan dengan rencana pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan yang sedang membuat regulasi Peraturan Menteri Perhubungan (PM) tentang Perlindungan Keselamatan Pengemudi dan Pengguna Ojek (Online).

“Dalam pembuatan PM Ojol ini para pengemudi meminta agar pemerintah menyusun regulasi tentang biaya jasa layanan atau “tarif” bagi Ojol,” jelas Tigor lagi.

Usulan para pengemudi Ojol ini, menurut Tigor, disebabkan adanya fakta perang tarif oleh para aplikator yang merugikan pengemudi. Terkait dengan rencana pengaturan tarif dasar (batas atas dan batas bawah) bagi Ojol dalam PM tersebut membuat para aplikator keberatan dan berkepentingan menolak regulasi tersebut agar mereka tetap bebas menetapkan tarif sesuai kepentingan aplikator.

“Klaim bahwa tarif murah adalah kepentingan dan akan menguntungkan pengguna Ojol adalah salah dan tidak benar. Tarif murah bukan alasan utama para pengguna memilih gunakan Ojol,” papar Tigor.

Para pengguna memilih karena menggunakan Ojol, perjalanan mereka lebih akses dan jadi lebih cepat menembus kemacetan. “Tarif murah justru membahayakan pengguna karena para pengemudi pendapatannya rendah dan tidak bisa melakukan perawatan sepeda motor secara benar,” kilah Tigor.

Implikasinyaa, tambah dia, adalah kurangnya dana perawatan kendaraan tersebut maka merugikan pengguna Ojol karena sepeda motor yang digunakan jadi tidak laik jalan dan membahayakan keselamatan. “Jadi adanya tarif murah justru merugikan pengguna dan pengemudi Ojol,” tegas Tigor.(helmi)