Angkasa Pura 2

Lagi, Kapal Angkut Belasan Turis Asing Tabrak Karang Raja Ampat

DermagaMinggu, 10 Maret 2019
2019-03-10 14.20.33

RAJA AMPAT (BeritaTrans.com) – Kerusakan karang akibat ditabrak kapal turis kembali terjadi di perairan Raja Ampat. Kali ini, kapal bermuatan wisatawan mancanegara menghantam karang di Perairan Friwen, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu 9 Maret 2019.

Kapal layar atau yacht berwarna putih dan bertuliskan ‘WOW’ sempat ditahan warga setempat karena merusak karang hidup yang merupakan area lokasi penyelaman. Pasalnya, kapal tersebut kandas di atasnya.

Kejadian ini sempat viral di Facebook karena diunggah oleh akun bernama Melki Dimara. Dijelaskan dalam unggahan bahwa kapal turis tersebut milik seorang warga Filipina yang tengah membawa belasan turis asing.

“Ini nama kapal. Katanya pemiliknya orang Filipina, Teman-teman ini kapal yang tabrak reef (terumbu karang) di Friwen lokasi diving. Saya dan kawan-kawan sudah tahan kapal,” tulis Melki.

Kejadian tersebut sempat membuat warga setempat marah dan mengejar yacht dan meminta bantuan warga lainnya untuk menghubungi Polres Raja Ampat.

“Kami marah dan sempat kejar kapal tersebut dan kami tahan, namun karena kami tidak punya kewenangan menahan kapal, warga kami langsung laporkan kejadian ini ke Polres Raja Ampat agar ada proses hukum,” kata Sem, warga Kampung Friwen.

Kapolres Raja Ampat, AKBP Edy Setyanto Erning, yang dikonfirmasi Okezone membenarkan peristiwa ini.

“Anggota kami telah turun ke tempat kejadian perkara guna menghimpun data-data lapangan untuk penyelidikan lebih lanjut, kami masih selidiki dulu guna mengungkapkan data dan kasus ini masih proses penyelidikan,” kata Edy.

KM AMANIKAN

Sebelumnya kapal wisata KM Amanikan dilaporkan membuang jangkar di kawasan dangkal terumbu karang yang merupakan salah satu tempat menyelam wisatawan yang mengunjungi Kampung Arborek, Raja Ampat, Papua Barat.

Kapal wisata tersebut membuat kesal warga Kampung Arborek karena membuang jangkar di kawasan yang seharusnya tidak boleh pada Selasa (6/11/2018), sehingga warga melaporkannya ke Dinas Perhubungan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Raja Ampat Yohanes B Rahawarin di Waisai, Minggu, membenarkan pihaknya telah mendapat laporan dari masyarakat Kampung Arborek disertai dengan dokumen foto kejadian tersebut.

Dia mengatakan, pihaknya juga telah mendatangi masyarakat kampung Arborek dan berdiskusi tentang kejadian tersebut dan membahas regulasi yang akan dibuat agar tidak ada kapal membuang jangkar sembarangan di terumbu karang Kampung Arborek.

Kapal wisata KM Amanikan sebelumnya telah melakukan pelanggaran kandas dan merusak karang di Pulau Gan Raja Ampat. Nahkoda kapal tersebut sempat pula menjalani proses hukum.

PERNAH KANDAS

Kapal wisata KM Amanikan yang dinakhodai I Made Sudana, dilaporkan kandas di Perairan Raja Ampat tepatnya di Pulau GAM Distrik Waigeo Barat, Kepulauan, Papua.

Dari informasi yang didapatkan, kapal tersebut karam berawal saat pada hari Kamis, 23 November 2017 sekitar pukul 14.30 WIT, KM Amanikan membawa sembilan kru dan enam wisatawan mancanegara asal Korea Selatan dan Amerika tersebut bergerak dari Pulau Mioskun, Distrik Waigeo Barat Kepulauan menuju kepulauan Wayag.

Lalu pada Jumat (24/11/2017), pukul 18.00 WIT kapal diserah terima jaga dari Nahkoda I Made Sudana ke Mualim I I Gusti Bagus Putra dan Juru Mudi Subaer, kemudian nakhoda meninggalkan ruang kemudi untuk menuju ke ruang makan.

“Berselang sekitar 30 menit kemudian ( pada pukul 18.30 WIT) kapal kandas di atas karang pada posisi S 00 derajat 32.326′ E 130 derajat 33.336,” ungkap salah seorang sumber SINDOnews di Pol Air Polres Raja Ampa yang enggan namanya diberitakan.

MV CALEDONIAN SKY
Dugaan perusakan terumbu karang sebelumnya melibatkan kapal MV Caledonian Sky yang memiliki bobot 4200 gross ton ke perairan Raja Ampat pada 3 Maret 2017. Setelah penumpangnya berwisata di pulau, kapal yang dinahkodai oleh Kapten Keith Michael Taylor itu hendak melanjutkan perjalanan ke Bitung pada 4 Maret 2017.

Di tengah perjalanan menuju Bitung, MV Caledonian Sky kandas di atas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat. Sempat ditarik tug boat, kapal itu akhirnya berhasil kembali berlayar dengan meninggalkan kerusakan terumbu karang di kawasan seluas 18.882 meter persegi.

Namun, hingga kini belum ada kejelasan proses hukum kerusakan terumbu karang yang disebabkan kapal pesiar itu.