Angkasa Pura 2

Disiapkan RPM, Angkutan Umum Ke Depan Harus Dilengkapi e-Look Book dan GPS

Koridor OtomotifKamis, 14 Maret 2019
20190314_081551

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kasubdit Angkutan Barang, Ditjen Hubdat Saiful Bahri mengatakan, pihaknya tengah menyusun Rancangan Peraturan Menhub (RPM) mengenai standar keselamatan dan pelayanan minimum (SPM) khususnya untuk kendaraan angkutan umum barang.

“RPM itu akan segera dibahas bersama, sekaligus minta sarana dan masukan dari seluruh pemangku kepentingan. Saat diterbitkan nanti, PM tersebut tak banyak ristensi dan bisa langsung diaplikasikan secara optimal,” kata Saiful Bahri saat mewakili Direktur Angkutan Jalan Ahmad Yani saat peluncuran SmartMT di kantor PPN, Plumpang, Jakarta, kemarin.

Beberapa isi pokok dalam RPM itu, lanjut Saiful, pertama adalah e-look book. Alat ini berfungsi untuk mengetahui dan memantau perilaku pengemudi angkutan umum barang atau penumpang di perjalanan.

“Dari e-look book, di pusat operasi akan diketahui, berapa kecepatan kendaraan, berhenti dimana, tersesat atau tidak dan lainnya akan bisa dipantau dan tercatat dengan lengkap,” jelas Saiful menjawab BerotaTrans.com.

20190314_081519

Kedua, jelas Saiful adalah pemasangan GPS (global potitioning system). Dengan GPS ini, posisi dan pergerakan kendaraan akan bisa dipantau dan dikendalikan termasuk di daerah remote area.

“Demikian juga jika kendaraan melaju melebihi batas, atau berhenti sangat lama, bisa langsung dikontak dan diingatkan,” papar Saiul.

Keempat, adalah sistem manajemen keselamatan (SMK). Perusahaan angkutan umum ke depan harus mempunyai sistem manajemen keselamatan (SMK) yang baik, modern dan terukur.

Oleh karena itu, menurut Saiful, dalam setiap PO harus ada manager atau penanggung jawab bidang keselamatan. Mereka emngurusi keselamatan dari awal sampai selesai beroperasi.

“Dengan begitu, operasional kendaraan, bahkan mulai seleksi calon awak angkutan umum sudah diterapkan sistem dan syarat-syarat tentang keselamatan,” terang Saiful.

Keempat adalah, menjaga dan menegah over loading. “Kendaraan ke depan hanya boleh mengangkut muatan sesuai kepasitas kendaraan dan kualitas jalan yang akan dilalui,” terang Saiful.

Jika over loading ini bisa dicegah, dan kendaraan melitas sesuai kualitas dan data tampung jalan, menurut Saiful, maka potensi kerusakan jalan dan juga penyebab kecelakaan di jalan raya bisa ditekan semaksimal mungkin.

Kelima, adalah klasifikasi dan ketaatan kendaraan yang melintas sesuai kapasitas dan daya tampung jalan yang ada. Jangan seperti sekarang, semua kendaraan boleh melintas di semua jalan.

“Akibatnya, jalan cepat rusak atau memicu kemacetan yang tidak pada tempatnya,” sebut pejabat Ditjen Hubdat itu.

“Jadi, kendaraan truk muatan berat misalnya, tidak bisa melintas sembarang. Tapi di jalan yang memang disiapkan mampu menahan bebas sesuai jenis dan kondisi kendaraannya,” tegas Saiful.(helmi)

loading...