Angkasa Pura 2

Cuaca Buruk Hadang Pelayaran Feri Labuan Bajo, BBM dan Komoditas Pertanian Tertahan Berhari-hari di Dermaga

DermagaRabu, 20 Maret 2019
dermaga-kapal-feri-labuan-bajo

LABUAN BAJO (BeritaTrans.com) – Komoditas pertanian, seperti pisang dan alpukat, yang diangkut oleh sejumlah mobil ekspedisi dan pick up mulai membusuk di areal dermaga kapal feru Labuan Bajo, Kabupaten Menggatai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT)..

Buah-buahan itu dibawa dari Maumere ke Sape, NTB dan ke Pulau Jawa oleh mobil ekspedisi lewat kapal feri dari Labuan Bajo.

Namun ternyata kapal feri tidak bisa menyeberang ke Sape sejak Hari Senin (18/3/2019) dan masih berlangsung sampai Rabu (20/3/2019) akibat cuaca buruk.

“Kami sudah tiga malam di sini, advokat yang kami muat di mobil dari Maumere ke Banyuwangi mulai membusuk. Kerugian berkisar antara tiga sampai empat juta,” kata Mulyadi.

Demikian juga yang disampaikan oleh driver lainnya Subari.

“Saya angkut pisang dari Maumere ke Sape. Sama juga saya sudah tiga malam di sini. Pisang di bagian dasar mobil sudah mulai membusuk. Kerugian sekitar dua juta,” kata Subari.

Mobil ekspedisi lainnya mengangkut jahe dari Ruteng serta sejumlah komoditi pertanian lainnya dari Flores.
Menurut para driver, komoditi itu bukan milik mereka tetapi milik orang lain yang menyewa kendaraan mereka.

“Saat datang ke Flores kami juga mengangkut buah-buahan untuk jual di sini. Seperti jeruk, salak dan lainnya,” kata Subari.

Pantauan POS KUPANG.COM, sekitar 20 unit kendaraan yang parkir di areal dermaga feri Labuan Bajo saat itu, memunggu keberangkatan feri.

Sebagian besarnya mobil truk atau ekspedisi yang mengangkut pisang.
Sebagian kecilnya pick up dan kendaraan jenis lainnya.

Setiap hari ada satu kapal feri dari Labuan Bajo ke Sape dan satu lainnya dari Sape ke Labuan Bajo.

10 Truk Tangki Tertahan

Sementara itu, 10 truk tangki pengangkut BBM dari Bima ke Labuan Bajo, masih tertahan di Bima karena kapal feri tidak bisa menyeberang dari Sape menuju Labuan Bajo akibat cuaca buruk, yakni gelombang tinggi dan angin kencang disertai hujan.

Sales executive PT Pertamina wilayah Flores, Akil menyampaikan bahwa 10 mobil tersebut tertahan sejak Hari Minggu (17/3/2019) malam.

“Sebanyak sepuluh mobil tangki yang sudah standby sejak Hari Minggu malam tertahan di Bima, tidak bisa melaut karena cuaca buruk,” kata Akil, Rabu (20/3/2019).

Dijelaskannya, kesepuluh mobil itu mengangkut beberapa jenis BBM yakni pertamax 8 KL, pertalite 32 KL, premium 32 KL, Solar 56 KL, Solar nonsubsidi 24 KL dan Avtur 16 KL.

Untuk diketahui, longsor yang terjadi di ruas jalan nasional Labuan Bajo – Ruteng pada Kamis (7/3/2019) lalu masih berdampak pada suplai BBM sampai saat ini.

Walaupun ruas jalan itu sudah bisa dilintasi kendaraan pada siang hari, namun ada dua titik yang sulit dilewati kendaraan besar truk pengangkut BBM di atas 5 ton.

Kedua titik itu yakni di depan Gua Maria Wae Lia dan di salah satu ujung Jembatan Wae Mese.

Hingga saat ini penanganan masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

(jasmine/sumber dan foto: tribunnews.com).

loading...