Angkasa Pura 2

BPTJ: Di Stasiun MRT Lebak Bulus dan Dukuh Atas akan Dibuatkan Shelter Tempat Menunggu Bagi Ojol

Emplasemen KoridorKamis, 21 Maret 2019
IMG-20190321-WA0036

IMG-20190321-WA0028

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Proyek MRT Jakarta ini akan menjadi percontohan bagi transportasi umum nyaman yang tidak ada perilaku sembarangan, terutama transportasi pengumpan setelah menggunakan MRT. Selain itu, juga tak boleh membangun shleter untuk ojek online (ojol) sembangan di sepanjang jalur MRT dari Lebak Bulus, sampai Bundara HI Jakarta Pusat.

“Pada 2 Stasiun (MRT) akhir yakni Lebak Bulus dan Dukuh Atas akan dibuatkan semacam shelter tempat menunggu bagi ojol. Lalu akan dibuatkan melalui aplikasi yang terintegrasi dengan para aplikator bernama Point of Interest (POI) yang memberikan notifikasi kepada pengemudi ojol untuk berkumpul di titik shelter,” kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono usai diskusi Bedah Peran Strategis BPTJ di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Dikatakan Bambang Pri, pihaknya tengah melakukan simulasi agar sepanjang jalan arteri DKI Jakarta tersebut tidak ada ojol yang berhenti di tepian jalan. “Sudah simulasi, tapi hasilnya belum kelihatan. Idenya, kami ingin menata ojek online ini karena sudah dianggap masyarakat meresahkan dan menyebabkan kemacetan,” jelas Bambang Pri.

Dengan adanya MRT, menurut dia, jangan nanti MRT kita operasikan jadwalnya tepat waktu nyaman. Tiba-tiba menjadi berantakan dari segi visual dan layanan feedernya tidak ada atau kalaupun ada jelek,” ungkap Bambang Pri, usai diskusi di Hotel Millenium, Jakarta itu.

Menurutnya, shelter tersebut menjadi titik penjemputan dan penurunan penumpang ojol. “Hanya kita perbolehkan itu di Lebak Bulus dan Dukuh Atas.Jadi sepanjang jalan Sudirman-Thamrin itu tidak ada ceritanya parkir ojek pangkalan driver dan ojol. Dia bersih karena orang ke sana otomatis jalan kaki karena trotoarnya sudah keren,” kata Bambang Pri lagi.

Selain itu, dia juga menegaskan tidak boleh ada penjemputan ojol yang menyebabkan kemacetan di sepanjang jalan tersebut, sementara yang diperbolehkan hanya menurunkan penumpang.

Bambang Pri ingin agar perilaku masyarakat dalam bertransportasi mulai berubah dan menggunakan trotar untuk berjalan kaki, utamanya karena trotoar di sepanjang jalan tersebut sudah representatif.

Sebagai pilot project, kalau sudah berhasil, Kemenhub akan meneruskan pengaturan ini ke titik-titik angkutan massal tempat ojol menjadi biang keladi kemacetan seperti Stasiun Palmerah dan Manggarai.(helmi)

loading...