Angkasa Pura 2

MRT Jakarta Beroperasi, YLKI : Perlu Didukung Rekayasa Lalu Lintas

Emplasemen KoridorSelasa, 26 Maret 2019
IMG_20190320_073655

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sduah diresmikan. Peprv DKI Jakarta dan DORD juga sudah menyepakati besaran tarif MRT, yaitu Rp8.500/ 10 km (Bundaran HI-Lebak Bulus).

“Kendati terbilang terlambat, putusan dan persetujuan tersebut layak diberikan apresiasi. Besaran tarif Rp8.500, yang berbasis distance based, juga merupakan skema tarif yang cukup fair dan akomodatif bagi kepentingan konsumen,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Senin (25/3/2019) malam.

Namun begitu, lanjut dia, agar kinerja MRT Jakarta benar-benar optimal, maka perlu didukung beberapa langkah strategis lainnya khususnya dalam hal rekayasa lalu lintas.

Rekayasa lalu lintas yang dimaksud, menurut Tulus Abadi adalah, “Upaya pengendalian atau pembatasan kendaraan pribadi di koridor yang dilewati MRT Jakarta,” jelas Tulus.

Tanpa upaya pengendalian penggunaan kendaraan pribadi, paparTulus, maka kepeminatan pengguna ranmor pribadi untuk migrasi ke MRT akan minim.

Selanjutnya, YLKI mendesak untuk adanya transportasi pengumpan yang mengintegrasikan dengan stasiun MRT Jakarta.

“Dan adanya tiket MRT yang terintegrasi dengan tiket transportasi pengumpan, terutama terintegrasi dengan tiket Transjakarta,” terang Tulus.

Menurut dia, Pemprov DKI Jakarta dan managemen MRT Jakarta, harus belajar atas kasus yang dialami Kereta Bandara dan LRT Palembang.

Hingga kini (LRT Palembang), belum optimal kinerjanya, karena masih minim penumpang. “Jangan sampai MRT Jakarta mengulang kejadian yang dialami LRT Palembang dan Kereta Bandara tersebut,” tandas Tulus.(helmi)

loading...