Angkasa Pura 2

MV Balthasar Schulte Jadi Kapal Terpanjang Pertama Dilayani Terminal Petikemas Pelabuhan Panjang

DermagaRabu, 27 Maret 2019
oilr1zxtd3ue6dlqdtmx

LAMPUNG (BeritaTrans.com) – MV Balthasar Schulter menjadi kapal besar pertama sandar di Terminal Petikemas Pelabuhan Panjang.

Kapal yang dioperasikan oleh Sealand Maersk tersebut tiba di Pelabuhan Panjang, Senin (25/3/2019), pukul 16.00 WIB dan langsung menjalani proses pemanduan dan penyandaran yang telah melalui koordinasi berbagai pihak antara PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Cabang Panjang, IPC TPK Area Panjang, PT Jasa Armada Indonesia, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Panjang serta Sealand Maersk Indonesia.

David Sirait Senior Vice Presiden Pelayanan Terminal PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) mengatakatan, hari bersejarah ini membuktikan bahwa Pelabuhan Panjang dapat melayani kapal dengan panjang 261 meter.

Kapal tersebut melayani shipment Intern Asia secara langsung dan longterm dengan rute secara langsung melayani rute dari Panjang ke Kaohsiung (Taiwan), Busan (Korea), dan Shanghai (Cina).

Dengan rute ini membuktikan bahwa Lampung merupakan salah satu pusat perdagangan internasional dengan dukungan fasilitas pelabuhan yang modern dan sejalan dengan Visi IPC yaitu menjadin Pelabuhan Internasional. “Kedatangan kapal sepajang 261 M di Pelabuhan Panjang ini menunjukan semakin meningkatnya kemajuan Infrastrukur Pelabuhan di Lampung,” ujar David.

Dia mengatakan dengan adanya kapal ‘raksasa’ ini, maka pengiriman logistik dari wilayah Lampung tak perlu lagi transit di Singapura. Kapal ini bisa membawa pengiriman langsung ke negara tujuan ekspor.

“Jadi barang-barang ekspor yang tadinya ke Singapura dulu bisa langsung ke tujuan pembeli,” kata David.

Dengan begitu, kata David, maka kapal yang dioperasikan oleh Sealand Maersk dapat melakukan pengiriman logistik menjadi lebih efisien. Secara otomatis pengiriman barang akan lebih murah dan cepat.

“Ini sesuai arahan pemerintah untuk turunkan biaya logistik. Kalau ke Singapura ada cost tambahan US$ 200-250 per kontainer. Jadi ada kapal besar tarif lebih murah, tidak mampir dulu ke Singapura, dan waktu lebih cepat,” jelasnya.

Sementara Country Manager Sealand Joshua mengatakan, Sealand berkembang di Pelabuhan Panjang sejak pertama kali memasuki pasar pada tahun 2009 (saat itu masih dikenal sebagai MCC).

Pihaknya percaya bahwa layanan baru yang ditingkatkan menghubungkan Panjang secara langsung ke China, Korea Selatan dan Rusia akan memberikan pelanggan konektivitas baru, serta mendukung perdagangan internasional tidak hanya untuk Provinsi Lampung, tetapi juga bagian selatan Sumatera.

Layanan baru ini memiliki kapal terbesar yang yang sandar di Pelabuhan Panjang dan merupakan satu-satunya layanan yang secara langsung melayani rute dari Panjang ke Kaohsiung (Taiwan), Busan (Korea), dan Shanghai (Cina).

Demikian juga dengan rute ini mampu membawa lebih banyak ekspor dari Provinsi Lampung dan dan Sumatera Bagian Selatan dengan peningkatan sekitar 167 persen dalam ruang kapal dan 46 persen peningkatan dalam kapasitas reefer dan pengurangan hingga 69 persen dalam waktu transit.

TARGET 136.000 TEUS

Sementara itu, Direktur Utama IPC TPK M. Adji mengatakan tahun ini pihaknya menargetkan bisa mengangkut sekitar 136 ribu TEUs karena hadirnya kapal ‘raksasa’ MV Balthasar Schulte yang dioperasikan oleh Sealand Maersk.

“Dua tahun lalu itu 119 ribu. Tahun lalu 116 ribu TEUs. Tahun ini target kita 136 ribu, karena ada kapal besar ini,” kata Adji di Pelabuhan Panjang, Lampung, Selasa (26/3/2019).

IPC TPK sendiri mencatat, di awal 2019 ini terjadi peningkatan jumlah ekspor dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Contohnya untuk Januari 2019 jumlah ekspor yang dikirim sebanyak 7.734 TEUs, jumlah ini meningkat 32,84% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5.823 TEUs.

Kemudian pada Februari 2019, jumlah ekspor yang dikirim sebanyak 11.498 TEUs, jumlah ini juga mengalami peningkatan sebesar 21,48% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 9.645 TEUs.

Adapun komoditas-komoditas yang paling banyak diekspor, kata Adji, adalah komoditas hasil bumi seperti kopi, nanas, karet maupun pisang. Saat ini nanas asli Lampung menjadi hasil bumi yang paling banyak diekspor.

“Di sini agro, kopi, nanas, pisang. Dulu kopi, sekarang mulai bergeser ke nanas,” kata Adji.

Selain hadirnya kapal ‘raksasa’ tersebut, Adji mengatakan, adanya infrastruktur Tol Trans Sumatera juga turut mendongkrak peningkatan ekspor. Adji mengatakan, adanya Tol Trans Sumatera dapat mendorong ekspor hingga 10%.

“Kalau kemarin kita hitung itu kita harapkan bisa lebih dari 10% (peningkatannya). Kalau nanti coba lihat, Pelabuhan Panjang ini dari tahun 95 sampai sekarang itu (pengirimannya) naik turun, tapi di sekitar itu angkanya. Nggak pernah lebih dari 120 ribu,” katanya.