Angkasa Pura 2

Tarif Ojol Yang Baru Berlaku Efektif 1 Mei 2019, Ini Kata Pengamat

Koridor SDMKamis, 28 Maret 2019
Darmaningtyas Instrans

ojek online

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tarif ojek online (ojol) yang baru sesuai PM No.12/2019, akan berlaku per 1 Mei 2019 ini. Tarif ojol lebih tinggi dari tarif saat ini, tapi masih di bawah permintaan pengemudi ojol pada umumnya.

“Perhitungan awal yang diajukan Tim 10 dulu adalah Rp3.100, tarif kotor (belum dipotong aplikator 20%) atau kalau bersih sebesar Rp2.450. Masing-masing aplikator dapat menentukan besaran potongannya, dan di sanalah letak persaingan yang sehat antar aplikator tanpa harus mengorbankan kesejahteraan driver (mitra),” kata pengamat transportasi dan Direktur Intsrans Darmaningtyas kepada BeritaTrans.com di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, bisa saja nanti aplikator yang satu menetapkan potongan 20%, tapi bisa juga kurang dari 20%. “Besaran tarif tersebut dapat dievaluasi setelah 3-6 bulan diimplementasikan, disesuaikan dengan kondisi lapangan,” jelas Tyas, sapaan akrab dia.

Pertanyaah yang selalu muncul adalah, apakah tarif Ojol yang baru ini tidak memberatkan konsumen? Jawabannya jelas, ojol ini merupakan sarana angkutan alternatif, bukan sarana angkutan utama yang wajib disediakan oleh pemerintah.

“Karena sarana alternatif, maka sifatnya pilihan (choice), orang bisa memilih/ atau tidak memilih naik Ojol,” papar Tyas, yang juga Pamong Perguruan Taman Siswa itu.

Jika menurut pertimbangan kantong tarif Ojol mahal, maka masyarakat bisa meninggalkannya dan balik menggunakan sarana angkutan umum. “Yang penting adalah, Pemerintah Daerah menyediakan sarana angkutan umum yang selamat, aman, nyaman, dan terjangkau,” terang Tyas.

Untuk wilayah DKI Jakarta, menurut Tyas, tidak ada alasan lagi orang enggan menggunakan angkutan umum. Pasalnya, layanan Transjakarta Busway sekarang sudah cukup luar (lebih dari 169 rute), ada KRL Jabodetabek, serta ada layanan Jak Lingko yang gratis dan sampai ke kampung-kampung.

Tak Terganggu Tarif Ojol

Menurut Tyas, ini (kenaikan tarif ojol) artinya mobilitas warga tidak akan terganggu dengan naiknya tarif ojol. Sebaliknya, berkurangnya ketergantungan warga terhadap Ojol justru dapat mengurangi kesemrawutan lalu lintas dan dapat menekan korban angka kecelakaan.

Sebab bila didata, papar Tyas, jumlah kecelakaan di DKI Jakarta yang melibatkan angkutan umum dengan yang melibatkan Ojol, tentu lebih banyak yang melibatkan Ojol.

“Ini artinya Ojol bukan sarana transportasi yang berkeselamatan, maka sebaiknya hanya tepat menjadi sarana angkutan alternatif saja, sehingga kenaikkan tarifnya tidak perlu diributkan,” tandas Tyas.(helmi)

loading...