Angkasa Pura 2

BMKG Luncurkan AWOS iRMAVIA untuk Keselamatan Penerbangan

Bandara KokpitSelasa, 2 April 2019
images-35

IMG-20190402-WA0004

JAKARTA (BeritaTrans com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofiksika (BMKG) meluncurkan Automated Weather Observing System (AWOS) iRMAVIA yanh merupakan produk dalam negeri, karya pertama anak bangsa, generasi milennial BMKG.

iRMAVIA merupakan singkatan dari iRM yang diambil dari sub Bidang Instrumentasi Meteorologi, sub Bidang yang mengembangkan AWOS dan Avia, yaitu Aviation.

“Total bandara di Indonesia 297, tetapi jumlah AWOS saat ini sebanyak 180 yang beroperasi di setiap bandara. Tentunya, kondisi ini masih jauh dari ideal,” ucap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Selasa (2/4/2019).

Dwikorita menjelaskan, selama ini kebutuhan AWOS didapat dari produk impor yang memiliki harga lebih mahal, kesulitan dalam pemiliharaan terutama untuk mendapatkan spare partnya.

Untuk itu, kata dia saat peluncuran kemarin (1/4/2019), BMKG mengembangkan AWOS iRMAVIA dan kedepannya melalui kerjasama dengan mitra industri dan perguruan tinggi, diharapkan dapat memenuhi pasar di Asia Pasifik dalam dunia penerbangan.

Deputi Bidang Instrumentasi, Kalibrasi, Rekayasa, dan Jaringan Komunikasi Widada Sulistya menambahkan, AWOS merupakan sistem pengamatan cuaca bandara yang dikonfigurasi untuk memberikan informasi kondisi cuaca bandar udara secara real time berupa parameter suhu udara, kelembapan udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, jarak pandang, serta tinggi awan.

“Informasi tersebut akan ditransimisikan ke stasiun meteorologi penerbangan dan layanan navigasi untuk panduan tinggal landas dan lepas landas pesawat terbang,” tutur dia.

Pengembangan AWOS iRMAVIA melalui berbagai tahap. Tahap awal, tahap di mana memiliki fokus pada perancangan sistem dan tampilan. Tahap berikutnya, meliputi penyempurnaan sistem, penyandian otomatis, dan penyiapan implementasi. Terakhir, pengembangan sistem meliputi implementasi sistem dan evaluasi.

“Pada tahap awal, BMKG telah mengembangkan penggunaan data dan sensor secara fleksibel. Selain itu, dilakukan pembutan interface dengan 3 fitur display, tower view, observer pressure view yang digunakan untuk mendukung keselamatan penerbangan,” kata Widada.

Proses terakhir, akan dilakukan pengembangan data observasi dalam database untuk lebih sempurna.

“Dengan adanya produk ini, menjadi langkah awal bagi Indonesia menuju kemandirian penyediaan peralatan penunjang keselamatan penerbangan sehingga angka kecelakaan transportasi udara akibat faktor cuaca dapat diminimalisir,” pungkasnya. (omy)

loading...