Angkasa Pura 2

Instrans: Hanya 5 Pengemudi dari 300 Responden Yang Ingin Anaknya Jadi Pengemudi Angkot

Koridor SDMSabtu, 6 April 2019
IMG_20190406_094416

JAKARTA (BeritaTrans.om) – Hasil survey (Instrans) tahun 2017 menyimpulkan, hanya lima responden (pengemudi) dari 300 responden pengemudi angkot di Jabodetabek yang berharap anaknya dapat melanjutkan profesi ayahnya. Umnya, mereka adalah memiliki angkot sendiri.

“Mereka yang menjalankan angkot orang lain, tidak ada yang berharap anaknya menjadi pengemudi angkot,” kata Direktur Intsrans Darmaningtyas saat dikonfirmasi BeritaTrans.com di Jakarta, Sabtu (6/4/2019).

Dikatakan, kondisi ni memang ironis. Angkot sudah terbukti memiliki peran besar dalam mendinamisir mobilitas di perkotaan, namun profesi pengemudi angkot adalah profesi yang dihindari, karena penghasilannya tidak menentu, bekerjanya tiap hari amat panjang (di atas dua jam).

“Image-nya di masyarakat juga rendah. Mungkin ini disebabkan karena selama ini pengemudi angkutan umum memang tidak pernah dibina dan difasilitasi untuk berkembang, tidak ada proses pendidikan dan latihan (Diklat) untuk menjadi pengemudi angkot, dan tidak perlu sertifikat,” kata Tyas, sapaan akrab dia lagi.

Profesi sopir angkot lahir secara natural orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan biasanya lalu nongkrong di tempat ngetem angkot, lalu mengikuti pengemudi yang mereka kenal, lihat cara mengemudikan, dan kemudian kalau ada kesempatan mereka mencoba menjalankan angkot, meski hanya untuk marker saja.

“Sebelum mereka menjadi sopir batangan, mereka memulai sebagai sopir tembak, dan kemudian meningkat menjadi sopir cadangan. Oleh karena menjadi pengemudi angkot itu tidak memakai Diklat maupun persyaratan sertifikat, maka profesi menjadi pengemudi angkot atau angkutan umum lainnya tidak membanggakan sama sekali,” papar Tyas.

Dan kebetulan, menurut Pamong Perguruan Taman Siswa itu, yang menjadi pengemudi angkutan umum itu adalah mereka yang tidak lolos bekerja di sector formal.

Pengemudi Berfikir Maju

Ketika bertemu, kini makin banyak pengemudi angkot yang berfikiran maju. “Mereka menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi (tidak peduli di kampus mana), itu sudah merupakan hal yang menggembirakan bagiku,” kilah Tyas.

Ketika Tyas, naik Jak Lingko No. 30 jurusan Citraland – Meruya yang dikemudikan oleh Sugiono. Kedua anak Sugiono ini kuliah, yang sulung bahkan lulusan IPB (Institut Pertanian Bogor) dan sudah bekerja di perusahaan IT, dan anak kedua di UNS (Universitas Sebelas Maret) Surakarta.

“Prinsip Sugiono sama dengan prinsip pengemudi angkot No.37 tadi, tidak ingin anak-anaknya menjadi pengemudi angkot,” sebut Tyas.

Tyas menambahkan, ketika pengemudi angkot, di tengah keterbatasan biaya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai pendidikan tinggi. Hal itu adalah hal yang membanggakan, karena berarti mereka berfikir jauh ke depan untuk masa depan anak-anaknya.

“Semoga cita-cita mereka terkabul, dan anak-anak mereka dapat memperoleh penghidupan yang layak, melebihi kehidupan ayahnya sebagai pengemudi angkot,” harap Tyas.

Di tempat terpisah, Tyas juga menceritakan pengalaman berdialog dengan sopir Angkot di daerah Jalan Raya Bogor-PAL. Setelah bercakap-cakap tentang sepinya tarikan, kedua pengemudi itu saling bertanya tentang kuliah anak mereka masing-masing.

“Sang pengemudi yang membawa angkot bercerita tentang anak sulungnya yang sudah semester enam dan IPK-nya 3,6, adapun adiknya baru semester dua. Sedangkan pengemudi yang menjadi penumpang bercerita kalau adanya baru semester empat, dia cerita kalau nilai anaknya semester kemarin dari enam mata kuliah, nilai B nya satu, selebihnya A semua,” usai Tyas menirukan.

Mereka tidak menyebut kuliah di mana, mungkin karena sudah saling tahu, dan aku sebagai penumpang juga tidak terlalu kepo. Tapi pelajaran yang kupetik pagi itu adalah para pengemudi angkot ini –meskipun membawa angkot sekarang sepi—.

“Mereka para sopir angkot ternyata memiliki semangat maju, untuk menyekolahkan anaknya sampai pendidikan tinggi, mereka berharap anaknya tidak ingin anaknya menjadi sopir angkot seperti dirinya,” tegas Tyas.(helmi)

loading...