Angkasa Pura 2

Balitbaghub: Pelayanan LRT Palembang Butuh Optimalisasi Tata Guna Lahan

Emplasemen LitbangJumat, 12 April 2019
IMG-20190412-WA0066

IMG-20190412-WA0065

PALEMBANG (BeritaTrans.com) – Light Rail Transit (LRT) atau kereta api ringan Palembang, Sumatera Selatan telah dioperasikan sejak tahun 2018.

Keberadaannya merupakan proyek strategis nasional yang dibangun pemerintah guna meningkatkan pelayanan transportasi dalam mendukung pembangunan di Provinsi Sumsel. Pembangunan LRT di Palembang juga bertujuan sebagai transportasi umum alternatif untuk mengatasi kemacetan.

Pengembangan sistem LRT Palembang menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbanghub), diharapkan dapat menjadi sarana alternatif yang mampu berkontribusi terhadap orientasi sistem transportasi berkelanjutan dan mengakomodir pergerakan penumpang.

“Untuk itu, perlu dilakukan koordinasi terkait kebutuhan implementasi konsep transit oriented development (TOD) sesuai tata guna lahan sekitar stasiun LRT Palembang,” jelas Kepala Badan Litbang Perhubungan Sugihardjo diwakili Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Antarmoda M. Yugihartiman di Palembang, Kamis (11/4/2019).

Untuknya, Balitbanghub gelar diskusi terkait masalah ini dengan para stakeholder, diskusi yang bertemakan Kebutuhan Pengimplementasian Konsep TOD Sesuai Karakteristik Tata Guna Lahan Sekitar Stasiun-Stasiun LRT Sumatera Selatan.

Dia menyatatakan, perlu ada upaya yang dapat mewujudkan integrasi angkutan, antara lain melalui identifikasi kebutuhan fasilitas keterpaduan antarmoda dan akses ke tata ruang sekitar.

IMG-20190412-WA0063

Selain itu rerouting bus pengumpan (Trans Musi) hingga dapat menjangkau kawasan pemukiman penduduk, menyiapkan infrastruktur penunjang seperti fasilitas parkir kendaraan, serta jalur pedestrian dan jalur pesepeda yang memadai di sepanjang jalur LRT Palembang.

“Integrasi angkutan menjadi salah satu aspek penting,” ungkapnya.

Dinas Perhubungan Kota Palembang menyebutkan bahwa Pemerintah Kota Palembang telah menyediakan 10 trayek angkutan kota dan sudah terkoneksi dengan seluruh stasiun. Selain itu, Perum DAMRI juga mulai merintis integrasi antarmoda dan diharapkan dapat meningkatkan penumpang.

Saat ini beberapa rute angkutan perkotaan dan LRT sudah berhimpit sehingga memberikan kemudahan pergantian moda transportasi. Selain dapat menjangkau kawasan pemukiman penduduk, diharapkan keberadaan stasiun transit dapat menjangkau kawasan wisata, mall, bandara, dan kawasan perkantoran.

Keberadaan fasilitas penunjang seperti area parkir, JPO dan fasilitas bagi pejalan kaki juga perlu dipehatikan. Beberapa pihak menyarankan untuk segera mencari lahan sehingga setiap stasiun dibangun halte atau transfer point yang terkoneksi dengan moda transportasi lain.

“Untuk tarif parkir perlu dilakukan pengkajian ulang, karena apabila diberlakukan tarif progresif akan memberatkan masyarakat sehingga disarankan untuk mempertimbangkan time parking yang flat,” imbuh dia.

Akademisi Erika Buchori mengatakan, perlu dibentuk transport working group untuk mengimplementasikan pengembangan TOD yang kegiatannya berupa FGD. Mengkaji rute angkutan perkotaan, smart payment partnership, landuse partnership untuk menghentikan spekulasi lahan, serta pengembangan regulasi multimoda dan TOD.

LRT Palembang membentang sepanjang 23,40 KM dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin. Memiliki 13 stasiun dan satu depo.

“Di antaranya Stasiun Bandara SMB II, Asrama Haji, Talang Buruk, RSUP, Simpang Polda, Demang Lebar Daun, Palembang Icon, Dishub, Pasar Cinde, Ampera, Pltabes, jakabaring, dan OPI Mall,” kata Yugihartiman. (omy)

loading...